Kamis, 13 Januari 2011

PATISANDHI / PUNARBHAVA (Tumimbal Lahir)

sesuai benih yang ditabur itulah yang akan dipetik.
Ungkapan diatas diatur oleh sebuah hukum yang kita kenal dengan istilah kamma (pali) atau karma (sansekerta). Karma ada yang mengatur sebab-akibat di kehidupan ini maupun yang akan datang, ada juga yang mengatur kehidupan suatu makhluk di satu alam dan ada juga yang mengatur dimana sutau makhluk akan dilahirkan.Jenis yang terakhir adalah yang disebut janaka kamma, janaka kamma mengatur kelahiran sesuai dengan macam dan sifatnya, berapa usianya, cantik, ganteng, jelek, kaya, miskin dan sebaginya. Kelahiran yang diatur oleh karma ini tidak lepas dari perbuatan di masa sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa setiap perbuatan akan menimbulkan akibat sesuai perbuatannya.
Terlahir kembali merupakan bukti dari kehidupan yang berulang-ulang dari setiap makhluk yang disebut dengan istilah punabhava (pali) atau punarbhava (sansekerta). Setiap makhluk yang masih diliputi tanha (keinginan tanpa akhir) akan selalu terlahir kembali di salah satu dari 31 alam kehidupan. Dari tiga macam tanha, yang paling berpengaruh dalam kelahiran kembali adalah bhava tanha (keinginan untuk terlahir) meskipun kama tanha (keinginan pemuasan nafsu indera)dan vibhava tanha (keinginan untuk memusnahkan diri). Darimana keinginan-keinginan itu muncul? Dari pikiran keinginan itu muncul oleh ucapan dan perbuatan keinginan itu dicetuskan. Rangkaian ini disebut sabagai karma yang akan menjadikan sebab dari yang diperoleh selanjutnya.

Bhava paccaya jati, jati paccaya jaramarana. Jaramarana paccayupana jati.
Dengan adanya proses menjadi maka terjadilah kelahiran, dengan adanya kelahiran maka terjadilah kelapukan dan kematian. Kelapukan dan kematian menyebabkan kelahiran. Itu adalah mata rantai yang tidak dapat terputus, kelahiran terjadi setelah ada kematian dan kematian terjadi karena ada kelahiran. Makhluk hidup setelah mati (cuti) akan langsung terlahir kembali (patisandhi) tanpa menunggu jeda. Peristiwa kelahiran inilah yang disebut punarbhava, yang dapat terlahir di alamneraka, peta, asura, tiracchana, manusia, deva atau brahma. Punarbhava sering juga disebut patisandhi.
Banyak kalangan yang mengatakan bahwa punarbhava dan reinkarnasi merupakan dua halyang sama. Itu dikarenakan tidak memahami makna yang sebenarnya. Sesunggunhnya keduanya berbeda sama sekali. Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah tentang pandangan roh, jiwa, sukma / atta (atma). Dalam reinkarnasi roh atau atma adalah kekal dan selalu berpindah-pindah dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Dalam punarbhava tidak ada roh atau atma yang kekal yang berpindah-pindah pada setiap kelahiran, tetapi kelahiran kembali hanya merupakan proses kesadaran yang berpindah dan berubah di setiap kelahiran baru. Kesadaran makhluk di kehidupan baru berbeda dengan kesadaran pada makhluk di kehidupan lalu.
Agama buddha memandang sukma, roh, jiwa adalah tidak kekal seperti dikatakan dalam hukum tilakhana yaitu anatta, malainkan hanya merupakan proses yang selalu bergerak. Kelahiran kembali juga bukan merupakan perpindahan kehidupan di satu alam ataupun perpindahan kehidupan dari satau alam ke alam yang lain. Kelahiran kembali merupakan kelangsungan proses kesadaran yang bergerak terus karena adanya kekuatan karma.
AJARAN mengenai tumimbal-lahir sangat erat hubungannya dengan Hukum Karma. Ajaran tumimbal-lahir dalam agama Buddha membuktikan adanya kehidupan makhluk yang berulang-ulang.
Tumimbal-lahir (patisandhi/punabbhava) bukan berarti pemindahan atau penjelmaan. Dalam agama Buddha tidak dikenal pemindahan atau penjelmaan dari nama (bathin/jiwa) setelah seseorang meninggal dunia.
Tetapi dikenal dengan istilah "penerusan" (patisandhi) dari nama, disebut Patisandhi-vinnana.
Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran-ajal (cuti-citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. Kemudian, kesadaran-ajal (cuticitta) padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi-vinnana) untuk timbul pada salah satu dari 31 Alam Kehidupan (Bhumi 31) sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut pula suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru.
Ada 4 cara tumimbal-lahirnya makhluk-makhluk, yaitu :
  1. Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan lain-lain
  2. Andaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung, ayam, bebek dan lain-lain
  3. Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain.
  4. Opapatika-Yoni : Makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan dan lain-lain.
Di samping itu terdapat pula 4 macam tumimbal-lahir secara penerusan kehidupan di 31 Alam Kehidupan, yaitu :
  1. Apaya-Patisandhi : Bertumimbal-Lahir di alam Apaya.
  2. Kamasugati-Patisandhi : Bertumimbal-lahir di alam Kamasugati.
  3. Rupavacara-Patisandhi : Bertumimbal-lahir di alam Rupa-jhana.
  4. Arupavacara-Patisandhi : Bertumimbal-lahir di alam Arupajhana.

Ada 31 Alam Kehidupan yang merupakan tempat diam makhluk-makhluk, sedangkan Nibbana (Nirvana) adalah di luar dari 31 Alam Kehidupan itu. Makhluk-makhluk yang diam di 31 Alam Kehidupan itu masih mengalami kelahiran dan kematian, masih mengalami derita. 31 Alam Kehidupan tidak kekal adanya. Sebaliknya, Nibbana itu terbebas dari kelahiran dan kematian, terbebas dari derita, tidak termusnah, ada dan tidak berubah, kekal adanya.
Jika seseorang belum mencapai kesucian tingkat Arahat, setelah ia meninggal dunia, ia akan dilahirkan kembali dalam salah satu Alam dari 31 Alam Kehidupan sesuai dengan karmanya.

31 ALAM KEHIDUPAN TERBAGI MENJADI TIGA KELOMPOK
1. Kama-Bhumi 11
11 Alam Kehidupan yang makhluk-makhluknya masih senang dengan napsu indera dan melekat pada panca indera.
2. Rupa-Bhumi 16
16 Alam Kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai Rupa Jhana (Jhana Bermateri, hasil dari melaksanakan Samata Bhavana).
3. Arupa-Bhumi 4
4 Alam Kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai Arupa Jhana (Jhana Tanpa Bermateri, hasil dari melaksanakan Samatha Bhavana)
I. Kama-Bhumi 11 terdiri dari :
- Apaya-Bhumi 4 (4 alam kehidupan yang menyedihkan), yaitu :
  1. Niraya-Bhumi: Alam Neraka.
  2. Tiracchana-Bhumi : Alam Binatang.
  3. Peta-Bhumi: Alam Setan.
  4. Asurakaya-Bhumi: Alam Raksasa Asura
- Kamasugati-Bhumi 7 (7 alam kehidupan napsu yang menyenangkan) :
  1. Manussa-Bhumi : Alam Manusia.
  2. Catummaharajika-Bhumi : Alam Empat Dewa Raja.
  3. Tavatimsa-Bhumi : Alam 33 Dewa. Di Sorga ini Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada Ratu Mahamaya (Ibunda-Nya) dan para dewa lainnya.
  4. Yama-Bhumi : Alam Dewa Yama.
  5. Tusita-Bhumi : Alam Kenikmatan. Ratu Mahamaya dan Maitreya Bodhisattva diam di Sorga ini.
  6. Nimmanarati-Bhumi : Alam Dewa yang menikmati ciptaannya.
  7. Paranimmita-vasavatti-Bhumi: Alam Dewa yang membantu menyempumakan ciptaan dewa-dewa lainnya.
Penjelasan Apaya-Bhumi 4
a. Suatu alam disebut Niraya-Bhumi (alam neraka) karena alam ini tidak terdapat kesenangan dan kabahagiaan. Niraya-Bhumi (alam neraka) terbagi pula dalam beberapa kelompok alam, diantaranya dikenal kelompok Maha-Naraka 8, yaitu :
1. Sanjiva-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami berbagai macam siksaan.
2. Kalasutta-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini tubuhnya dipotong-potong sampai terpisah.
3. Sanghata-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini tubuhnya ditindih dengan berbagai macam alat berat.
4. Roruva-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan berat sehingga menjerit-jerit.
5. Maharoruva-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan lebih berat..sehingga suara jerit dan tangisan lebih keras.
6. Tapana-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan dengan api yang menyala di tubuhnya.
7. Mahatapana-Naraka
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami kepanasan sepanjang masa.
8. Avici-Naraka (Devadatta diam di alam Avici Naraka ini).
Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan berat berulang-ulang dalam kelahiran dan kematian di alam Neraka ini: Setelah mati hidup kembali dan disiksa seterusnya.
Pembagian kejahatan yang membawa akibat tumimbal-lahir dalam alam Neraka:
• Membunuh manusia : Terlahir di alam-alam Sanjiva-Naraka dan Kalasutta-Naraka.
• Membunuh binatang : Terlahir di alam-alam Sangata-Naraka dan Roruva-Naraka.
• Mencuri: Terlahir di alam Maharoruva-Naraka.
• Membakar kota: Terlahir di alam Tapana-Naraka.
• Mempunyai pandangan salah: Terlahir di alam Mahatapana-Naraka.
• Melakukan lima perbuatan durhaka : Terlahir di alam Avici-Naraka. 

b. Suatu alam disebut Tiracchana-Bhumi (alam binatang), karena makhluk-makhluk yang diam di alam ini tidak mempunyai tempat yang khusus.
Makhluk binatang ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
• Kelompok makhluk binatang yang dapat dilihat dengan mata.
• Kelompok makhluk binatang yang tidak dapat dilihat dengan mata. 

Makhluk binatang yang berkaki terbagi dalam 4 kelompok, yaitu :
• Apadatiracchana : Kelompok makhluk binatang yang tidak mempunyai kaki, seperti ular, ikan, cacing dan lain-lainnya.
• Dvipadatiracchana : Kelompok makhluk binatang yang mempunyai dua kaki, seperti ayam, burung, bebek dan lain-lainnya.
• Catupadatiracchana : Kelompok makhluk binatang yang mempunyai empat kaki, seperti kerbau, tikus, kuda dan lain-lainnya.
• Bahuppadatiracchana : Kelompok makhluk binatang yang mempunyai banyak kaki, seperti ulat bulu, lipan dan lain-lainnya.
c. Suatu alam disebut Peta-Bhumi (alam setan), karena makhluk yang diam di alam ini jauh dari kesenangan dan kebahagiaan.
Makhluk Setan ini terbagi dalam beberapa kelompok, diantaranya terdapat kelompok-kelompok setan yang disebut PETA 4, PETA 12 dan PETA 21 sebagai tertulis di bawah ini :

PETA 4 (terdapat dalam Kitab Petavatthu-Atthakatha)
1. Paradattupajivika-Peta : Setan yang memelihara hidupnya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang.
2. Khupapipasika-Peta: Setan yang selalu lapar dan haus.
3. Nijjhamatanhika-Peta: Setan yang selalu kepanasan.
4. Kalakancika-Peta: Setan yang sejenis Asura.
Penjelasan :
Hanya Paradattupajivika-Peta saja yang dapat menerima makanan yang diberikan orang dalam upacara sembahyang serta kiriman jasa dari keluarga. Para Bodhisattva, jika terlahir menjadi setan, akan menjadi Paradattupajivika-Peta, dan tidak akan menjadi setan (peta) yang lain.

PETA 12 (terdapat dalam Kitab Gambhilokapannatti).
1. Vantasa-Peta: Setan yang makan air ludah, dahak dan muntah.
2. Kunapasa-Peta : Setan yang makan mayat manusia dan binatang.
3. Guthakhadaka-Peta: Setan yang makan berbagai kotoran.
4. Aggijalamukha-Peta : Setan yang dimulutnya selalu ada api.
5. Sucimuja-Peta : Setan yang mulutnya sekecil lobang jarum.
6. Tanhattika-Peta: Setan yang dikendalikan oleh napsu keinginan rendah sehingga lapar dan haus.
7. Sunijjhamaka-Peta : Setan yang berbulu hitam seperti arang.
8. Suttanga-Peta : Setan yang mempunyai kuku tangan kaki yang panjang dan tajam seperti pisau.
9. Pabbatanga-Peta: Setan yang bertubuh setinggi gunung.
10. Ajagaranga-Peta : Setan yang bertubuh seperti ular.
11. Vemanika-Peta : Setan yang menderita pada waktu siang, dan senang pada waktu malam dalam kahyangan.
12. Mahidadhika-Peta: Setan yang mempunyai ilmu gaib. 

PETA 21 (terdapat dalam Kitab Suci Vinaya dan Lakkhanasanyutta).
1. Attisankhasika-Peta : Setan yang mempunyai tulang bersambungan, tetapi tidak mempunyai daging.
2. Mansapesika-Peta : Setan yang mempunyai daging terpecah-pecah, tetapi tidak mempunyai tulang.
3. Mansapinada-Peta : Setan yang mempunyai daging berkeping-keping.
4. Nicachaviparisa-Peta : Setan yang tidak mempunyai kulit.
5. Asiloma-Peta: Setan yang berbulu tajam.
6. Sattiloma-Peta : Setan yang berbulu seperti tombak.
7. Usuloma-Peta : Setan yang berbulu panjang seperti anak panah.
8. Suciloma-Peta: Setan yang berbulu sepertijarum.
9. Dutiyasuciloma-Peta: Setan yang berbulu seperti jarum kedua (lebih tajam).
10. Kumabhanda-Peta : Setan yang mempunyai kemaluan sangat besar.
11. Guthakupanimugga-Peta : Setan yang bergelimangan dengan kotoran.
12. Guthakhadaka-Peta: Setan yang makan berbagai macam kotoran.
13. Nicachavitaka-Peta: Setan perempuan yang tidak mempunyai kulit.
14. Dugagandha-Peta : Setan yang baunya sangat busuk.
15. Ogilini-Peta: Setan yang badannya seperti bara api.
16. Asisa-Peta: Setan yang tidak mempunyai kepala.
17. Bhikkhu-Peta : Setan yang berbadan seperti bhikkhu. .
18. Bhikkhuni-Peta : Setan yang berbadan seperti bhikkhuni.
19. Sikkhamana-Peta: Setan yang berbadan seperti Setan yang berbulu seperti pelajar wanita atau calon bhikkhuni.
20. Samanera-Peta : Setan yang berbadan seperti samanera.
21. Samaneri-Peta : Setan yang berbadan seperti samaneri. 

d. Suatu alam disebut Asurakaya-Bhumi (alam raksasa asura), karena makhluk yang diam di alam ini jauh dari kemuliaan, kebebasan, kesenangan dan kebahagiaan.
Penjelasan Kamasugati-Bhumi 7 :
1. Suatu alam disebut Manussa-Bhumi (alam manusia), karena makhluk yang diam di alam ini mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang berguna dan yang tidak berguna, yang berfaedah dan yang tidak berfaedah dan lain-lainnya.
Dalam hal ini ada 4 macam Manusia (Manussa 4) yaitu:
  1. Manussa-Naraka: Manusia Naraka. Manusia yang senang membunuh makhluk, seperti berburu, pejagal, algojo, perbuatannya selalu berdasarkan kebencian (dosa).
  2. Manussa-Peta: Manusia Setan. Manusia yang tidak kenaI kebajikan, senang meladeni napsu indera, Kelompok Dewa yang disebut perbuatannya selalu berdasarkan ketamakanlkeserakahan (lobha).
  3. Manussa-Tiracchana: Manusia Binatang. Manusia yang tidak kenaI kebajikan dan kejahatan, keras hati, sombong, senang bicara kasar dan jorok, tidak berbakti pada orang tua, tidak akur dengan saudara, perbuatannya selalu berdasarkan kebodohan bathin (moha).
  4. Manussa-Manussa : Manusia-Manusia. Manusia yang mengetahui yang mana yang baik dan buruk, yang mana patut dilakukan dan tidak dilakukan, yang berfaedah dan tidak berfaedah, mempunyai rasa malu (hiri) berbuat kejahatan dan takut (ottappa) akan akibat dari perbuatan jahat, hidupnya selalu berpedoman dengan dhammavinaya (Tipitaka).
2. Suatu alam disebut Catummaharajika-Bhumi (alam empat raja dewa), karena di alam tersebut diam Empat Raja Dewa yang bernama :
- Davadhatarattha
- Davavirulaka
- Davavirupakkha
- Davakuvera

Catummaharajjika-Bhumi terbagi dalam 3 kelompok yaitu :
a. Bhumamattha-Devata: Para Dewa yang berdiam di atas tanah, seperti para dewa yang diam di gunung, sungai, laut, rumah, cetiya, vihara, candi dan lain-lain.
b. Rukakhattha-Devata : Para Dewa yang diam diatas pohon. Dewa ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
- Kelompok dewa yang mempunyai kahyangan di atas pohon.
- Kelompok dewa yang tidak mempunyai kahyangan di atas pohon.
c. Akasattha-Devata : Para Dewa yang berdiam di angkasa, seperti di bulan, bintang, dan planet lainnya. 

3. Suatu alam disebut Tavatimsa-Bhumi (alam dari 33 dewa), karena dahulu kala ada sekelompok pria yang berjumlah 33 orang yang selalu bekerja sarna dalam berbuat kebaikan, seperti bersama-sama membantu fakir miskin, bersama-sama melaksanakan dana untuk pembangunan vihara, rumah sakit, sekolah dan lain-lainnya. Sewaktu mereka meninggal dunia semuanya terlahir dalam satu alam kehidupan, yang disebut Tavatimsa-Bhumi (alam tiga puluh tiga dewa).
4. Suatu alam disebut Yama-Bhumi (alam dewa yama), karena para dewa yang diam di alam ini terbebas dari kesulitan, yang ada hanya kesenangan.
5. Suatu alam disebut Tusita-Bhumi (alam dewa kenikmatan), karena para dewa yang diam di alam ini terbebas dari kepanasan hati, yang ada hanya kesenangan dan kenikmatan.
6. Suatu alam disebut Nimmanarati-Bhumi (alam dewa yang menikmati ciptaannya), karena para dewa yang diam di alam ini menikmati kesenangan panca indera dari hasil ciptaannya.
7. Suatu alam disebut Paranimmita-vasavatti-Bhumi (alam dewa yang membantu menyempurnakan ciptaan dari dewa-dewa lainnya), karena para dewa yang diam di alam ini, disamping menikmati kesenangan panca indera, juga mampu membantu menyempurnakan ciptaan dewa-dewa lainnya. 

Perbedaan Alam Manusia dengan Alam Dewa :
a. Di Alam Dewa, Ariya-Puggala (Orang Suci) lebih banyak dari Alam Manusia, karena pada jaman Sang Buddha Gotama banyak orang mencapai kesucian tingkat Sotapanna dan Sakadagami setelah mendengar khotbah Dharma langsung dari Sang Buddha Gotama. Kemudian, setelah meninggal dunia mereka terlahir dialam Dewa. Ada juga yang mendengar khotbah Dharma langsung dari Sang Buddha Gotama mencapai kesucian tingkat Anagarni dan Arahat. Mereka yang telah menjadi Anagami, bila meninggal dunia, terlahir di alam Rupa-Brahma.

Tetapi Arahat telah terbebas dari kelahiran dan kematian, mencapai Saupadisesa-nibbana atau Kilesa Parinibbana, setelah Aranat meninggal dunia mereka mencapai Anupadisesanibbana atau Khandha Parinibbana atau Parinibbana.

b. Keistimewaan di Alam Manusia ialah adanya Sangha, ada yang mengajarkan dan belajar Tipitaka, sebagian besar para Bodhisattva lahir di Alam manusia untuk mencapai kesucian tingkat Kebuddhaan. Sebaliknya, di Alam Dewa tidak ada Sangha, dan tidak ada yang mengajarkan Tipitaka. 

II. Rupa-Bhumi 16 terdiri dari :

- PATHAMA JHANA BHUMI 3 : 3 Alam kehidupan Jhana Pertama, yaitu :
  1. Brahma Parisajja Bhumi : Alam pengikut pengikut Brahma.
  2. Brahma Purohita Bhumi : Alam para menteri Brahma.
  3. Maha Brahma Bhumi : Alam Brahma yang besar.
- DUTIYA JHANA BHUMI 3 : 3 Alam kehidupan Jhana Kedua, yaitu :
  1. Brahma Parittabha Bhumi : Alam para Brahma yang kurang cahaya.
  2. Brahma Appamanabha Bhumi : Alam para Brahma yang tak terbatas cahayanya.
  3. Brahma Abhassara Bhumi: Alam para Brahma yang gemerlapan cahayanya.
- TATIYA JHANA BHUMI 3 : 3 Alam Kehidupan Jhana Ketiga, yaitu :
  1. Brahma Parittasubha Bhumi : Alam para Brahma yang kurang auranya.
  2. Brahma Appamanasubha Bhumi : Alam para Brahma yang tak terbatas auranya.
  3. Brahma Subhakinha Bhumi : Alam para Brahma yang auranya penuh dan tetap.
- CATUTTHA JHANA BHUMI 7 : 7 Alam Kehidupan Jhana Keempat, yaitu :
  1. Brahma Vehapphala Bhumi : Alam para Brahma yang besar Pahalanya.
  2. Brahma Asannasatta Bhumi : Alam para Brahma yang kosong dari kesadaran.
Selanjutnya Alam-Alam dari Jhana ke empat ini dinamai Alam Suddhavasa 5, yaitu 5 Alam Kehidupan Yang Murni, Alam Kehidupan khusus untuk para Anagami, yaitu :
  1. Brahma Aviha Bhumi : Alam para Brahma yang tidak bergerak.
  2. Brahma Atappa Bhumi : Alam para Brahma yang suci.
  3. Brahma Sudassa Bhumi : Alam para Brahma yang indah.
  4. Brahma Sudassi Bhumi : Alam para Brahma yang berpandangan terang.
  5. Brahma Akanittha Bhumi : Alam para Brahma yang luhur.
Penjelasan:
Anagami yang tidak mempunyai Catutthajjhanakusala (sutta) atau Palicamajjhana-kusala (Abhidhamma) tidak dapat terlahir di Alam Suddhavasa 5. Beliau yang tidak mempunyai Pancamajjhana-kusala, setelah meninggal, akan terlahir di Alam Rupa-Jhana (bukan Suddhavasa 5) dengan kekuatan "Maggasiddhi-Jhana".

III. Arupa-Bhumi 4 terdiri dari :
1.Akasanancayatana Bhumi : Keadaan dari konsepsi ruangan tanpa batas.
2.Vinnanancayatana Bhumi : Keadaan dari konsepsi kesadaran tanpa batas.
3.Akincanayatana Bhumi ; Keadaan dari konsepsi kekosongan.
4.Nevasannanasannayatana Bhumi : Keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar