Senin, 28 Mei 2012

Culakammavibhanga Sutta

Demikianlah yang saya dengar: Pada suatu kesempatan, Yang Diberkati berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian Subha sang murid, putra Todeyya, menghadap Yang Diberkati dan bertukar salam denganNya, dan ketika percakapan yang sopan dan ramah berakhir, ia duduk di satu sisi. Sesudah itu, Subha sang murid bertanya kepada Yang Diberkati:
“Guru Gotama, apakah alasannya, apakah kondisinya, mengapa sifat yang rendah dan unggul dipertemukan di antara insan, di antara umat manusia? Karena seseorang berjumpa dengan mereka yang pendek dan panjang usia, mereka yang sakit dan tampan, mereka yang diremehkan dan yang ber­pengaruh, mereka yang miskin dan kaya, mereka yang mem­punyai kelahiran yang hina dan yang agung, mereka yang bodoh dan bijaksana. Apakah alasan dan kondisinya, mengapa sifat yang rendah dan keunggulan dipertemukan di antara insan, di antara umat manusia?”
“Wahai Murid, manusia adalah pemilik karma, pewaris karma, mereka memiliki karma sebagai !eluhurnya, karma sebagai sanak saudaranya (tanggungjawabnya), karma sebagai tempat tinggal mereka. Karmalah yang membedakan sifat rendah dan unggul di antara umat manusia.”
“Saya tidak mengerti dengan jelas maksud penuturan Guru Gotama yang sebenarya tanpa adanya penguraian. Akan Lebih baik jika Guru Gotama mengajarkan saya Dharma Se­hingga saya bisa mengerti maksud penuturan Guru Gotama yang sebenamya.”
“Kalau begitu dengarkanlah, wahai Murid, dan per­hatikanlah dengan baik apa yang akan saya katakan.”
“Baiklah, Guru,” jawab Subha sang murid. Yang Diberkati menuturkan hal di bawah ini:
“Di sinilah, wahai Murid, beberapa dari para wanita dan pria adalah pembunuh makhluk hidup, kejam, dengan tangan berlumuran darah, menyerah pada keributan dan kekerasan, tidak berbelaskasihan terhadap semua makhluk hidup. Karena telah melakukan dan menyelesaikan karma seperti in saat badan rusak, sesudah kematian, Ia muncul di tingkat rendah, di tempat tujuan yang tidak bahagia, dalam hukuman yang tiada habisnya, dalam neraka. Apabila, pada saat badan menjadi rusak, sesudah kematian, selain dan kemunculannya di tempat tujuan yang tidak bahagia, dalam hukuman yang tiada habisnya, dalam neraka, ia menjadi manusia, ia akan pendek usia di mana pun Ia dilahirkan. ini adalah jalan menuju usia pendek, yakni, menjadi pembunuh makhluk hidup, kejam, tangan yang berlumuran darah, menyerah pada keributan dan kekerasan, tidak berbelaskasihan terhadap semua makhluk hidup.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita atau pria, tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup, berpantang melakukan pembunuhan makhlukhidup, menyingkirkan cambuk dan pisau, baik budi dan penuh belas kasihan dan selalu peduli terhadap kesejahteraan makhluk hidup. Karena telah melaku­kan dan menyelesaikan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, Ia muncul kembali di tempat tujuan yang bahagia dalam dunia yang amat menyenangkan. Apabila, pada saat badan menjadi rusak, sesudah kematian, selain dan kemunculannya di tempat tujuan yang bahagia, dalam dunia yang amat menyenangkan, ia menjadi manusia, ia dianugerahi usia panjang di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarahkan pada panjang usia, yakni, tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup, berpantang membunuh makhluk hidup, menyingkirkan cambuk dan pisau, baik budi dan selalu penuh belas kasihan, dan selalu peduli terhadap kesejahteraan makhluk hidup.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria adalah penganiaya makhluk hidup dengan tangannya, atau dengan batu, atau dengan tongkat, atau dengan pisau. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul di tingkat rendah.. apabila... selain dan... Ia menjadi manusia, Ia sakit-sakitan di mana pun ia dilahirkan. Ini adalah jalan yang mengarah pada keadaan berpenyakitan, yakni, menjadi penganiayaan makhluk hidup dengan tangannya, atau dengan batu, atau dengan tongkat, atau dengan pisau.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita atau pria yang bukan penganiaya makhluk hidup dengan menggunakan tangannya atau batu atau tongkat atau pisau. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul kembali di tempat tujuan yang bahagia.... apabila... selain dari.. ia menjadi manusia, Ia sehat di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada kesehatan, yakni, tidak menjadi penganiaya makhluk hidup dengan tangannya atau dengan batu atau dengan tongkat atau dengan pisau.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria marah, lebih menyerah pada kemarahan; bahkan ketika sedikit yang dikatakan, ia sangat geram, marah, bersikap tidak ramab, benci, atau menunjukkan tabiat jelek, kebencian dan kebengisan. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, Ia muncul di tingkat rendah.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ia buruk rupa di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada keburukrupaan, yakni, menjadi sangat geram, marah, bersikap tidak ramah, benda dan menunjukkan tabiat jelek, kebencian dan kebengisan.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita atau pria yang tidak pemarah, atau lebih menyerah pada kemarahan; bahkan ketika banyak yang dikatakan, ia tidak geram, marah, bersikap tidak ramah, benci, ataupun menunjukkan tabiat jelek, kebencian atau kebengisan. Karena telah melakukan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul kembali di tempat tujuan yang bahagia.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ia rupawan di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada kenipawanan, yakni, tidak menjadi marah atau menyerah kepada kemarahan; bahkan ketika banyak yang dikatakan, tidak menjadi geram, marah, bersikap tidak ramah, atau benci, atau menunjukkan tabiat jelek, kebencian atau kebengisan.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria adalah pendengki; ia dengki, iri, dan menunjukkan kedengkian pada keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul di tingkat rendah.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ia diremehkan di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada peremehan, yakni, menjadi pendengki, mendengki, ini, dan menunjukkan kedengkian pada keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita dan pria yang tidak pendengki, ia tidak dengki, iri, atau menunjukkan kedengkian terhadap keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain. Karena telah melakukan dan menyelesaikan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul kembali pada tempat tujuan yang bahagia.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ia ber­pengaruh di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada pengaruh, yakni, tidak menjadi pendengki, tidak mendengki, ini, atau menunjukkan kedengkian terhadap keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria bukanlah penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh dan penerangan kepada para bhikkhu atau orang suci. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul di tingkat rendah... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ia miskin di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada ke­miskinan, yakni, tidak menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh dan penerangan kepada para bhikkbu dan orang suci.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita dan pria yang menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh dan pe­nerangan kepada para bhikkhu dan orang suci. Karena telah melakukan dan menyelesaikan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, Ia muncul kembali pada tempat tujuan yang bahagia.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ía kaya di mana pun ia dilahirkan. mi adalah jalan yang mengarah pada kekayaan, yakni, menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh, dan penerangan kepada para bhiksu dan orang suci.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria keras kepala dan angkuh; ia tidak memberikan penghormatan kepada siapa ia seharusnya memberikan penghormatan, atau berdiri terhadap siapa ía seharusnya berdiri, atau memberi tempat kepada siapa ia seharusnya memberi tempat, atau memberi jalan kepada siapa ia seharusnya memberi jalan, atau me­nyembah ia yang seharusnya disembah, atau menghargai siapa yang seharusnya dihargai, atau memuja ia yang seharusnya dipuja, atau menghormati ía yang seharusnya dihormati. Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul di tingkat rendah... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, ía dilahir­kan hina di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada kelahiran yang hina, yakni, menjadi keras kepala dan angkuh, tidak membeni penghormatan kepada siapa ía seharusnya memberi penghormatan, tidak bangkit melawan....tidak memberi tempat kepada.. . .tidak memberi jalan untuk... .tidak menyembah. . .tidak menghormat.... tidak memuja.. . .tidak menghormati ia yang seharusnya dihormati.”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita dan pria yang tidak keras kepala dan angkuh; ia memberi penghormatan kepada siapa ía seharusnya memberi penghormatan, memberontak melawan terhadap siapa ia seharusnya melawan, memberi tempat kepada siapa ia seharusnya memberi tempat, memben jalan kepada siapa ia seharusnya memberi jalan, menyembah ía yang seharusnya disembah, menghormat kepada siapa ia se­harusnya menghormat, memuja ía yang seharusnya dipuja, menghormati ía yang seharusnya dihormati. Karena telah melakukan dan menyelesaikan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul kembali pada tingkat kehidupan.. .apabila.. .selain dari.. ia menjadi manusia, ia di­lahirkan agung di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah pada kelahiran yang agung, yakni, tidak menjadi keras kepala dan angkuh, memberikan penghormatan kepada siapa ia seharusnya memberikan penghormatan, bangkit... memberi tempat kepada... memberijalan untuk... menyembah... menghormat.... memuja.... menghormati ia yang seharusnya dihormati.”
“Di sini, wahai Murid, beberapa wanita atau pria ketika mengunjungi bhikshu atau orang suci, tidak menanyakan:
Apakah yang menguntungkan itu, Yang Mulia? Apakah yang tidak menguntungkan? Apakah yang salah? Apakah tidak salah? Apakah yang harus dilatih? Apakah yang tidak hams dilatih? Apakah itu, dengan melakukannya, saya akan lama men­dapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan? Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan tama mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan? Karena telah melakukan dan menyelesaikan karma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, Ia muncul di tingkat rendah.... apabila... selain dan.... ia menjadi manusia, ia akan menjadi bodoh di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah kepada kebodohan, yakni, ketika mengunjungi rahib atau orang suci, tidak menanyakan: Apakah yang menguntungkan?_. Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan?”
“Tetapi di sini, ada beberapa wanita atau pria ketika mengunjungi bhikshu atau orang suci, menanyakan: Apakah yang menguntungkan, Yang Mulia? Apakah yang tidak meng­untungkan? Apakah yang salah itu? Apakah yang tidak salah? Apakah yang hams dilatih? Apakah yang tidak hams dilatih? Apakah itu, dengan melakukannya, saya akan lama men­dapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan? Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan? Karena telah melakukan dan menyelesaikan kamma seperti ini, pada saat badan rusak, sesudah kematian, ia muncul pada tempat tujuan yang bahagia.... apabila... selain dan... ia menjadi manusia, Ia menjadi bijaksana di mana pun ia dilahirkan. ini adalah jalan yang mengarah kepada kebijaksana­an, yakni, ketika mengunjungi bhikshu atau orang suci, me­nanyakan: Apakah yang menguntungkan7  Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan ke­ sejahteraan dan kebahagiaan?”
“Jadi, wahai Murid, jalan yang mengarah kepada pendek usia membuat manusia berusia pendek, jalan yang mengarah pada panjang usia membuat manusia berusia panjang; jalan yang mengarah pada berpenyakitan membuat manusia sakit, jalan yang mengarah pada kesehatan membuat manusia sehat; jalan yang mengarah pada keburukrupaan membuat manusia buruk rupa, jalan yang mengarah pada kerupawanan rnembuat manusia rupawan; jalan yang mengarah pada peremehan membuat manusia diremehkan, jalan yang mengarah pada pengaruh membuat manusia berpengaruh; jalan yang meng­arah pada kemiskinan membuat manusia miskin, jalan yang mengarah pada kekayaan membuat manusia kaya; jalan yang mengarah pada kelahiran yang hina membuat manusia lahir hina,jalan yang mengarah pada kelahiran yang agung membuat manusia lahir agung; jalan yang mengarah pada kebodohan membuat manusia bodoh, jalan yang mengarah pada ke­bijaksanaan membuat manusia bijaksana.
“Manusia adalah pemilik kamma, wahai Murid, pewaris kamma, memiliki kamma sebagai leluhur mereka, memiliki kamma sebagai sanak saudara mereka, memiliki kamma se­bagai tempat tinggal mereka. Kammalah yang membedakan manusia dilihat dan sifat rendah dan unggul”
Ketika sudah dituturkan, Subha sang murid, putra Todeyya, berkata kepada Yang Diberkati: “Bagus sekali, Guru Gotama Bagus sekali, Guru Gotama Dhamma telah diperjelas dengan berbagai jalan oleh Guru Gotama, seperti menegakkan apa yang terbalik, menampakkan yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, memegang lampu dalam kegelapan bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.
“Saya pergi ke Guru Gotama untuk perlindungan, dan kepada Dhamma dan Sangha. Mulai hari ini biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut yang telah meng­hadapNya untuk mencari perlindungan selama hidup.”
1

Minggu, 16 Oktober 2011

HUKUM KAMMA

Perbuatan yang dilakukan oleh jasmani, perkataan dan pikiran yang baik maupun yang jahat disebut Kamma. Keadaan yang menghasilkan perbuatan juga disebut Kamma.
Sang Buddha pernah bersabda :
kehendak untuk berbuat (cetana) itulah yang dinamakan Kamma.
"Sesuai dengan benih yang telah ditabur, Begitulah buah yang akan dipetiknya, Pembuat kebaikan akan mendapatkan kebaikan, Pembuat kejahatan akan mendapatkan kejahatan pula, Taburlah biji-biji benih, dan Engkau pula yang akan merasakan buah-buah dari padanya".
Sebagaimana telah diterangkan'di atas, perbuatan yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano) yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala) disebut Kamma, Jadi, Kamma itu dapat timbul dari tiga jalan, yaitu :
1. Kaya- Kamma (Perbuatan dari jasmani)
2. Vaci-Kamma (Perbuatan dari perkataan)
3. Mano-Kamma (Perbuatan dari pikiran)
Bila ketiga macam Kamma tersebut di atas dihubungkan dengan yang baik (kusala) dan yang jahat (akusala), maka Kamma tersebut menurut kedudukannya (pakatthanacatukka) digolongkan dalam 4 (empat) bagian, yaitu:
1. Akusala-Kamma (Perbuatan jahat)

Akusala-Kamma terbagi 3 bagian, yaitu :
a. Akusala-Kaya-Kamma (Perbuatan jahat melalui jasmani) yang terdiri atas 3 macam :
1. Panatipata: Pembunuhan
2. Adinnadana: Pencurian
3. Kamesumicchacara: Perzinaan.
b. Akusala-Vaci-Kamma (Perbuatan jahat melalui perkataan) yang terdiri atas 4 macam:
1. Musavada: Berdusta
2. Pisunavaca: Berbicara memfitnah
3. Pharusavaca: Bicara kasar
4. Samphappalapa: Bicara hal-hal yang tidak perlu atau omong kosong.
c. Akusala-Mano-Kamma (Perbuatan jahat melalui pikiran) yang terdiri atas 3 macam :
1. Abhijjha: Napsu lobha.
2. Byapada: Dendam/kemauan jahat
3. Miccha-ditthi: Pandangan salah.
Kamavacarakusala-Kamma terbagi dalam 3 bagian, yaitu :
a. Kusala-Kaya-Kamma (Perbuatan baik melalui jasmani) yang terdiri atas 3 macam:
1. Panatipata veramani : Menahan diri dari pembunuhan.
2. Adinnadana veramani : Menahan diri dari pencurian.
3. Kamesumicchacara veramani Menahan diri dari perzinaan.
b. Kusala-Vaci-Kamma (Perbuatan balk melalui perkataan) yang terdiri atas 4 macam :
1. Musavada veramani : Menahan diri dari berdusta.
2. Pisunaya vacaya veramani : Menahan diri memfitnah.
3. Pharusaya vacaya veramani : Menahan diri dari bicara kasar.
4. Samphappalapa veramani : Menahan diri dari bicara hal-hal yang tidak perlu atau omong kosong.
c. Kusala-Mano-Kamma (Perbuatan baik melalui pikiran) yang terdiri atas 3 macam:
1. Anabhijjha: Tidak mempunyai napsu loba.
2. Abyapada: Tidak mempunyai kemauan jahat.
3. Samma-ditthi: Berpandangan benar.
4. Rupavacarakusala-Kamma (Perbuatan baik yang berkenaan dengan Rupa-Jhana)Y
5. Arupavacarakusala-Kamma (Perbuatan baik yang berkenaan dengan Arupa-Jhana)

Kamma menurut jangka waktu bekerjanya dapat dibagi dalam tiga (3) golongan besar

I. Pakakala-catukka (Menurut jangka waktunya).
1. DITTHA DHAMMA VEDANIYA KAMMA adalah Karma yang memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini. Kamma ini terbagi 2 macam, yaitu :
a. Paripakka Dittha Dhammavedaniya Kamma adalah Karma yang memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul.
b. Aparipakka Dittha Dhammavedaniya adalah Karma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari.
2. UPPAJJA VEDANIYA KAMMA adalah Karma yang memberikan hasil dalam kehidupan yang akan datang, yaitu dalam kehidupan kedua.
3. APARAPARAVEDANIYA KAMMA adalah Karma yang memberikan hasil dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, yaitu dalam kehidupan ketiga dan seterusnya.
4. AHOSI KAMMA adalah Karma yang tidak menimbulkan akibat, karena :
a. Jangka waktunya untuk memberikan hasil telah habis, atau
b. karma yang menghasilkan akibatnya telah habis, atau karma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh.
II. Kicca-catukka (Menurut sifat kerjanya)
  • JANAKA KAMMA adalah Karma yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahir kembali suatu makhluk. Jika disingkatkan artinya disebut kamma melahirkan. Karma ini menimbulkan Nama-Khandha (Kelompok Bathin) dan Kammaja-Rupa (Materi/ Jasmani). Bila dibicarakan secara paramattha-sacca (kebenaran tertinggi) adalah Akusala-kamma 12, dan Lokiyakusala-kamma 17 (Kamavacarakusalakamma 8, Rupavacaraku-sala-kamma 5 dan Arupavacarakusala-kamma 4). Janaka-Kamma ini menjalankan tugas melahirkan makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan.
  • UPATTHAMBHAKA KAMMA adalah Karma yang membantu mendorong terpeliharanya satu akibat dari sebab yang telah timbul. Jika disingkatkan artinya disebut kamma membantu.
Kamma ini adalah membantu Janaka Kamma, yaitu :
a. Membantu Janaka Kamma yang belum mempunyai waktu menimbulkan hasil, memberikan waktu menimbulkan hasil/akibat.
b. Membantu Janaka Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil secara sempurna.
c. Membantu Rupa-Nama (Lahir-Bathin) yang dilahirkan Janaka Kamma menjadi maju dan bertahan lama.
  • UPAPILAKA KAMMA adalah Karma yang menekan satu akibat dari satu sebab. Jika disingkat artinya disebut kamma menekan.
Kamma ini adalah menekan Janaka Kamma, yaitu :
a. Menekan Janaka Kamma yang mempunyai keadaan bertentangan.
b. Menekan Rupa-Nama (Lahir-Bathin) yang dilahirkan Janaka Kamma.
Yang (a) di atas, yaitu "menekan Janaka Kamma yang mempunyai keadaan bertentangan" terbagi dalam dua macam, yaitu :
1. Menekan Janaka Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil.
2. Menekan Janaka Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil, supaya mempunyai kekuatan menurun dan tidak menimbulkan hasil sepenuhnya.
Maka itu, penekanan dari Upapilaka Kamma terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
a. Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil.
b. Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil supaya mempunyai kekuatan menurun.
c. Upapilaka Kamma yang menekan Rupa-Nama (Lahir-Bathin) yang dilahirkan Janaka Kamma.
  • UPAGHATAKA KAMMA adalah karma yang memotong kekuatan akibat dari satu sebab yang telah terjadi. Jika disingkatkan artinya disebut kamma memotong.
Kamma ini adalah memotong Janaka Kamma yang terdiri atas dua macam, yaitu :
1. Memotong Janaka Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil untuk selamanya (KAMMANTARA-UPAGHATAKA).
2. Memotong Rupa-Nama (Lahir-Bathin) yang dilahirkan Janaka Kamma sampai rusak (KAMMANEBBATTAKHANDHASANTANAUPAGHATAKA).

III.Pakadanaparidya-catukka (Menurut sifat hasilnya)

Golongan Karma ini dapat dibagi dalam empat jenis :
  • GARUKA KAMMA adalah Karma berat, yang mampu mcnimbulkan hasil dalam kehidupankedua, yang karma lain tidak mampu untuk mencegahnya. Perbuatan jahat yang berat disebut Akusala Garuka Kamma. Akibatnya adalah tumimbal-Iahir di alam Apaya (Alam yang menyedihkan, yaitu alam neraka, alam setan, alam binatang dan alam asura).

  • ASANNA KAMMA adalah kusala-kamma (perbuatan baik) dan akusala-kamma (perbuatan jahat) yang dilakukan seseorang sebelum saat ajalnya, yang dapat dilakukan dengan lahir dan bathin. Yang dimaksudkan Asanna-Kamma adalah Akusala. Kamma 12 (tidak termasuk Niyatamicchaditthi-Kamma dan Pancanantariya-Kamma) dan Mahakusala-kamma 8.
  • ACINNA KAMMA adalah Karma kebiasaan, yaitu perbuatan baik dan jahat yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena sering dilakukan.
  1. Seseorang melakukap salah satu kejahatan. Walaupun hanya sekali saja, orang itu selalu memikirkan perbuatan jahatnya itu. Kemudian timbul kegelisahan dan ketakutan. Ini juga disebut Akusala Acinna Kamma.
  2. Seseorang melakukan salah satu kebaikan. Walaupun melakukan kebaikan hanya sekali saja, orang itu selalu ingat akan perbuatan baiknya itu, dan kemudian timbul rasa kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan atas perbuatan baiknya itu. Ini juga disebut Kasala Acinna Kamma.
  • KATATTA KAMMA adalah Karma yang tidak begitu berat dirasakan akibatnya.
Karma ini yang paling lemah di antara semua karma.
Jadi, perbuatan baik (kusala kamma) dan perbuatan jahat (akusala-kamma) yang pemah dibuat dalam kehidupan lampau dan kehidupan sekarang ini yang belum mencapai Garuka Kamma, Asanna Kamma dan Acinna Kamma, yang si pembuatnya tidak melakukan dengan cetana atau kehendak yang sepenuhnya. Ini disebut Katatta Kamma. Katatta Kamma ini adalah karma yang tidak begitu berat (paling lemah) jika dibandingkan dengan Garuka Kamma, Asanna Kamma dan Acinna Kamma.