Minggu, 11 September 2011

KIASAN KARUNG GONI

            Dalam bukunya “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2” Ajahn Brahm memberikan banyak sekali pandangan-pandangan dan pelajaran-pelajaran tentang bagaimana memahami diri sendiri dan berinteraksi didalam kehidupan dengan cinta tanpa ego, damai tanpa syarat sehingga dapat menjadi pribadi yang bijak dengan memiliki hati bebas dan lepas dengan tidak memaksakan ancaman dogma keagamaan atau paksaan arogansi keimanan. Ketika menemukan tuturan-tuturan kalimat yang sederhana, apa adanya namun begitu jenaka, tak pelak saya terbahak dan tatkala masuk kedalam kalimat-kalimat cintanya yang indah dan jernih saya pun menitikkan airmata. Begitu indah ia bertutur melalui 108 cerita yang mencerahkan agar dapat menginspirasi untuk menyikapi kerentanan raga, perubahan dan noda batin.
Dalam salah satu ceritanya yang berjudul “ KIASAN GONI” , Ia bertutur ;
“Sering kali kita memiliki rasa enggan untuk berubah. Berikut ini adalah kisah yang sederhana, namun kemanjurannya telah bertahan selama berabad-abad, dan mengungkapkan mengapa orang jadi begitu keras kepala sehingga kadang mereka tidak mau mendengar sama sekali.
Ada dua orang yang memutuskan menempuh perjalanan jauh untuk mencari harta. Mereka mendengar ada kota yang ditinggalkan, dan ketika orang-orang meninggalkan kota, mungkin ada barang tertinggal yang bisa mereka temukan. Mereka pun pergi ke kota ini. Ketika sedang berjalan-jalan disana, mereka menemukan goni. Pada zaman itu, goni dipakai untuk membuat benang goni, yang mirip dengan kain yang digunakan untuk membuat celana jin.
Mereka menemukan goni tercecer, mengumpulkannya, dan masing-masing membawa sebuntal goni. Setelah beberapa lama, seorang dari mereka menemukan sebuntal benang goni. Tentu benang goni adalah apa yang kita ingin buat dari goni. Jadi salah satu dari mereka berkata, “Kini aku bisa membuang goniku, aku akan mengambil benang goni ini.” Namun temannya berkata, “Tidak ah, aku sudah menetapkan mengambil ini. Ini cukup buat ku.”
Jadi yang satu mengganti dengan barang yang lebih berharga, sedangkan yang satu tetap menyimpan yang lama. Setelah beberapa lama, mereka menemukan kain goni. Orang yang mengubah bawaannya membuang benang goninya dan mengambil kain goni ini, sedangkan yang satunya berkata, “Tidak ah, sebuntal goniku tersayang ini sudah cukup bagus.”
Lalu mereka menemukan rami yang dipakai untuk membuat kain linen. Pria yang membawa kain goni berkata, “Kini aku tidak butuh ini. Rami jauh lebih berharga.” Sementara orang yang masih memanggul goni mengatakan, “Tidak, ini sudah cukup bagiku.”
Lalu mereka mengalami serangkaian penemuan benda yang lebih berharga, yang mana satu orang ini terus mengubah dari goni kebenang goni, ke kain goni, ke rami, ke benang linen, ke kain linen, kemudian mereka menemukan perak, lalu akhirnya emas. Dan karena yang satunya terus tidak mau berubah, maka dia tiba dirumah hanya dengan sebuntal goni, sedangkan kawannya pulang dengan sebuntal emas.
Disebutkan dalam kitab bahwa orang yang kembali ke rumah membawa sebuntal emas disambut sangat meriah oleh keluarga dan sahabatnya, namun pria yang kembali dengan sebuntal goni tidak memberikan kepuasan atau kesenangan kepada siapa pun. Ini adalah kiasan kuno mengenai penyebab kita tidak pernah mau mengganti pandangan dan gagasan kita. Mengapa ketika kita memiliki gagasan tertentu, kita begitu sulit atau keras untuk mengubahnya padahal sesuatu yang lebih baik datang ? Ini sungguh suatu pertanyaan yang menarik.
Alasannya adalah, ketika kita sudah memiliki sesuatu, “Itu goni yang kutemukan.” goni itu nyaris menjadi diri Anda. Goni adalah aku. Aku akan mati jika aku mendapat jati diri lain, identitas lain. Banyak orang ketika mendapat gagasan baru mereka berkata, “Tidak ah, paham ini cukup bagi saya…,” atau semacamnya. Kita begitu resisten terhadap perubahan, meski kita tahu bahwa ada yang lebih baik. Jika kita memahami kiasan ini, kita akan tahu apa esensi pencarian kebenaran itu.”

Selasa, 05 Juli 2011

CATTARI ARIYA SACCANI (Empat Kesunyataan Mulia)

DALAM khotbah-Nya yang pertama di Tamari Rusa Isipatana yang terkenal dengan nama Dhamma Cakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma), Sang Buddha Gotama telah mengajarkan secara singkat Empat Kesunyataan Suci (Cattari Ariya Saccani), yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.
Empat Kesunyataan Suci tersebut adalah :
A. KESUNYATAAN SUCI TENTANG DUKKHA (Dukkha Ariyasacca)
Kata "dukkha" disini, yang menyatakan pandangan Sang Buddha tentang kehidupan dan dunia, mempunyai pengertian filosofis yang mendalam dan mencakup bidang yang amat luas.
Dalam khotbah-Nya yang pertama setelah mencapai Penerangan Sempurna, Beliau merumuskan dukkha dengan istilah sebagai berikut :
"Kelahiran, usia tua dan kematian adalah dukkha; kesakitan, keluh kesah, ratap tangis, kesedihan dan putus asa adalah dukkha; berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang tidak disenangi, dan tidak memperoleh apa yang diingini adalah dukkha. Dengan ringkas, jasmani dan bathin (segala bentuk kehidupan) adalah dukkha".
Banyak orang salah mengerti terhadap Ajaran ini, dan beranggapan bahwa Buddha Dhamma adalah ajaran pesimistis, yang memandang dunia ini dari sudut negatif. karena itu disini perlu ditegaskan bahwa Buddha Dhamma bukanlah Ajaran yang bersifat pesimistis atau optimistis. Sang Buddha adalah seorang realis dan obyektif; Beliau memandang segala sesuatu menurut hakekat yang sebenarnya berdasarkan Pandangan Terang (Yathabhutamnanadassanam).
Sewaktu menerangkan dukkha, Beliau juga mengakui adanya berbagai bentuk "kebahagiaan", material dan spiritual. Akan tetapi, kebahagiaan-kebahagiaan itu sendiri adalah bersyarat, selalu berubah-ubah dan tidak kekal, karena itu harus digolongkan dalam dukkha (Anicca, Dukkha Viparinamadhamma); dukkha bukan merupakan "penderitaan" dari arti kata umum, tetapi karena "segala sesuatu yang tidak kekal adalah dukkha" (yad aniccam tamdukkham).
Karenanya, dukkha disini mempunyai tiga pengertian :
1. Dukkha yang nyata, yang benar-benar dirasakan sebagai derita tubuh atau derita bathin, seperti lahir, menjadi tua, sakit, mati, berkumpul dengan yang tidak disukai, (dukkha-dukkha).
2. Semua perasaan senang dan bahagia berdasarkan sifat tidak kekal, yang di dalamnya terkandung benih-benih dukkha (viparinama dukkha).
3. Sifat tertekan dari semua sankhara (bentuk/keadaan yang bersyarat) yang selalu muncul dan lenyap, seperti pancakkhandha (lima kelompok kehidupan) atau nama-rupa (Sankhara dukkha).
B. KESUNYATAAN SUCI TENTANG ASAL MULA DUKKHA (Dukkhasamudaya Ariyasacca)
Asal-mula dukkha ialah "keinginan rendah" (Tanha), yang menyebabkan kelahiran berulang-ulang bersama dengan hawa napsu yang mencari kenikmatan ke sana ke mari (ponobhavika nandiragasahagata tatratatrabhinandini), yang terdiri atas :
1. Keinginan akan nafsu indera (kama-tanha)
2. Keinginan akan penjelmaan (terlahir)  (bhava-tanha)
3. Keinginan akan pemusnahan (vibhava-tanha)
Setiap orang mengakui bahwa semua kejahatan dalam dunia ini disebabkan oleh keinginan yang egoistis. Hal ini tidak sulit untuk dimengerti. Tetapi bagaimana tanha ini dapat mengakibatkan "kelahiran berulang-ulang" (ponobhavika) bukanlah dengan mudah dapat dimengerti. Maka di sini kita akan membicarakan sudut falsafah yang lebih dalam dari kesunyataan Suci kedua yang berhubungan dengan Kesunyataan Suci pertama.
Terdapat empat macam "makanan" (ahara) dalam pengertian sebab atau kondisi yang diperlukan untuk kelangsungan makhluk-makhluk:
1. Makanan material (kabalikarahara)
2. Kontak dari enam indera kita dalam menyentuh obyek (phassahara)
3. Kesadaran yang menimbulkan nama dan rupa (vinnanahara)
4. Kehendak bathin yang menimbulkan perkataan dan perbuatan (manosancetanahara)
Ahara 4 macam ini merupakan kehendak untuk hidup, untuk lahir, untuk lahir kembali, untuk berlangsung, untuk menjadi lebih sempurna. Ia menciptakan akar dari kelahiran dan kelangsungan yang bergerak maju dengan perbuatan-perbuatan yang baik dan buruk (kusala - akusala kamma).
C. KESUNYATAAN SUCI TENTANG LENYAPNYA DUKKHA (Dukkhanirodha Ariyasacca)
Lenyapnya dukkha, berarti  bebas dari semua kekotoran batin dan terbebas dari  keinginan rendah (tanha) ini; atau dengan kata lain: tercapainya Nibbana.sehingga tidak terlahir lagi di lingkaran kehidupan di 31 alamkehidupan
 Terdapat dua macam Nibbana, yaitu:
  1. Sa-upadisesa-Nibbana adalah padamnya kilesa (kekotoran batin) secara total, tetapi pancakkhandha (lima kelompok kehidupan) masih ada
  2. An-upadisesa-Nibbana adalah padamnya kilesa (kekotoran batin) secara total danjuga pancakkhandha (lima kelompok kehidupan) padam
D. KESUNYATAAN SUCI TENTANG JALAN MENUJU LENYAPNYA DUKKHA (Dukkhanirodha-gamini-patipada Ariyasacca)
Jalan untuk menuju lenyapnya dukkha ialah "Jalan Mulia Berunsur Delapan" (Ariya Atthangika Magga). Jalan Mulia Berunsur Delapan ini dikenal juga sebagai "Jalan Tengah" (Majjahima Patipada), oleh karena "Jalan" ini menghindari dan berbeda di luar cara hidup yang ekstrim, yaitu : pemuasan napsu indera yang berlebih-lebih dan penyiksaan diri; dan sekaligus mengajarkan suatu cara berpikir di tengah-tengah yang menghindari kedua kutub pandang, yaitu pandangan tentang "kekekalan" (sassataditthi) dan "kemusnahan" (ucchedda-ditthi).
Dengan ajaran ini kita dapat membedakan antara unsure-unsur berikut : suci dan tidak suci" (ariya dan anariya), baik dan buruk (kusala dan akusala), berguna dan tidak berguna (attha dan anattha), benar dan salah (dhamma dan adhamma), tercela dan tidak tercela (savajja dan anavajja), jalan hidup yang terang dan jalan hidup yang gelap (tapaniya dan anatapaniya) dan sebagainya.
Perlu ditekankan bahwa Jalan Mulia Berunsur Delapan ini bukanlah terdiri atas delapan buah jalan, yang harus diikuti satu demi satu atau dilaksanakan secara terpisah. Jalan Mulia Berunsur Delapan ini sebenarnya adalah "satu jalan" yang mempunyai delapan faktor di dalamnya. Karenanya, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.

Jalan Mulia Berunsur Delapan tersebut terdiri atas :

1. Samma-ditthi (Pandangan Benar)
Terdapat tiga macam pandangan yang benar yaitu :
  1. Pandangan yang benar terhadap Karma.
Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Semua makhluk adalah merupakan karmanya sendiri.
2. Semua makhluk adalah merupakan ahli waris dari karmanya sendiri.
3. Semua makhluk adalah lahir dari karmanya sendiri.
4. Semua makhluk adalah keluarga dari karmanya sendiri.
5. Semua makhluk adalah di topang oleh karmanya sendiri.
6. Karma apa saja yang dibuatnya, yang baik atau buruk, terhadap itu ia akan menjadi ahli warisnya.
2. Pandangan yang benar mengenai sepuluh persoalan.
Hal ini dapat diperinci sebagai berikut :
1. Adanya kebajikan yang tinggi dalam berdana.
2. Adanya kebajikan dalam pemberian yang banyak.
3. Adanya kebajikan dalam pemberian yang sedikit.
4. Adanya akibat dari perbuatan yang buruk maupun yang baik.
5. Adanya kebajikan dalam perbuatan yang dilakukan terhadap ibu.
6. Adanya kebajikan dalam perbuatan yang dilakukan terhadap ayah.
7. Adanya makhluk-makhluk yang lahir secara spontan.
8. Adanya dunia ini.
9. Adanya makhluk-makhluk yang lahir secara spontan.
10. Adanya dunia atau alam-alam kehidupan yang lain.
11. Adanya para Buddha dan Arahat yang melakukan latihan yang benar, yang memiliki pencapaian yang benar, yang mendapatkan kesunyataan melalui usahanya sendiri, di dunia ini maupun di alam-alam kehidupan yang lainnya, dan mengajarkan kesunyataan itu kepada makhluk-makhluk lainnya.

3. Pandangan yang benar mengenai Empat Kesunyataan Suci, yaitu :
  • Tentang adanya Dukkha.
  • Tentang Asal Mulanya Dukkha.
  • Tentang lenyapnya Dukkha.
  • Tentang Jalan yang menuju lenyapnya Dukkha.

2. Samma-Sankapa (Pikiran Benar)
Pikiran yang benar adalah pikiran yang menghindari kejahatan dan pikiran yang cenderung kepada kebajikan, yaitu :
  • Pikiran yang bebas dari Akusalamula 3 (3 akar kejahatan) yaitu lobha (ketamakan), doa (kebencian), moha (kebodohan bathin).
  • Pikiran yang berisi metta (cinta kasih).
  • Pikiran yang berisi karuna (belas kasihan).

3. Samma-vaca (Ucapan Benar).
Ucapan yang benar dapat diperinci sebagai berikut :
  • Ucapan yang terbebas dari kebohongan (kepalsuan).
  • Ucapan yang terbebas dari memfitnah (adu domba).
  • Ucapan yang terbebas dari kekerasan (kekejaman).
  • Ucapan yang terbebas dari kerewelan (cerewet/bawel).

4. Samma-kammanta (Perbuatan Benar).
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang tidak merugikan makhluk lain dan hal ini dapat diperinci sebagai berikut :
  • Perbuatan yang menghindari pembunuhan atau penyiksaan makhluk lain.
  • Perbuatan yang menghindari pencurian atau mengambil barang yang bukan miliknya.
  • Perbuatan yang menghindari perzinaan.

5. Samma-ajiva (Pencaharian Benar)
Pencaharian yang benar adalah pencaharian yang tidak merugikan makhluk lain dan juga tidak merugikan diri sendiri. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut :
  • Pencaharian yang tidak mengakibatkan pembunuhan.
  • Pencaharian yang wajar atau halal.
  • Pencaharian yang tidak berdasarkan penipuan.
  • Pencaharian yang tidak berdasarkan ilmu yang rendah (black-magic).

6. Samma-vayama (Usaha Benar).
Usaha yang benar adalah usaha untuk membersihkan diri dan mengembangkan kebaikan. Hal ini dapat diperinci sebagai berikut :
  • Usaha untuk menghindari kejahatan yang belum ada dalam diri.
  • Usaha untuk menghilangkan kejahatan yang sudah ada dalam diri.
  • Usaha untuk menumbuhkan kebaikan yang belum ada dalam diri.
  • Usaha untuk mengembangkan kebaikan yang sudah ada dalam diri.

7. Samma-sati (Perhatian Benar).
Perhatian yang benar adalah perhatian yang ditujukan kedalam diri sendiri, untuk melihat proses kehidupan ini, yang selalu dalam keadaan berubah, yakni :
  • Perhatian terhadap jasmani (Kayanupassana).
  • Perhatian terhadap perasaan (Yedananupassana).
  • Perhatian terhadap pikiran (Cittanupassana).
  • Perhatian terhadap bentuk-bentuk pikiran (dhammanupassana).

8. Samma-samadhi (Meditasi Benar).
Meditasi yang benar adalah meditasi untuk membersihkan bathin, guna menuju kesejahteraan hidup atau kesucian atau kebebasan dari penderitaan. Meditasi yang benar ada 2 (dua) macam, yaitu :
  1. Samatha- Bhavana, adalah meditasi untuk mengembangkan ketenangan bathin guna mencapai jhana-jhana dan kekuatan bathin (abhinna).
  2. Vipassana-Bhavana, adalah meditasi untuk mengembangkan pandangan terang guna mencapai kebijaksamian dan kesucian serta terbebas dari dukkha (nibbana).
Keterangan mengenai delapan faktor ini :
  1. Pandangan Benar dan Pikiran Benar adalah kelompok dalam perkembangan Panna.
  2. Pembicaraan Benar, Perbuatan Benar dan Pencaharian Benar adalah kelompok dalam perkembangan Sila.
  3. Usaha Benar, Perhatian Benar dan Meditasi Benar adalah kelompok dalam perkembangan Samadhi

untuk versi data langsung dowload disini