Selasa, 01 Maret 2011

PATICCASAMUPPADA (Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan)

Kata "Paticcasamuppada" mempunyai arti : Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan atau timbul karena kondisi-kondisi yang saling bergantungan.
Paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dan pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.
Paticcasamuppada ini adalah merupakan obyek dasar dari Vipassana Bhavana termasuk salah satu obyek dari keenam obyek dasar Vipassana Bhavana, yaitu :
1. Khadha 5/Pancakkhandha
2. Dhatu 18
3. Ayatana 12
4. Indriya 22
5. Paticcasamuppada
6. Ariya Sacca/Cattari Ariya Saccani 

Paticcasamuppada ada 12 faktor sebagai berikut :
1. Avijja paccaya sankhara : Dengan adanya Avijja (kebodohan bathin) maka muncullah Sankhara (bentuk-bentuk karma).
2. Sankhara paccaya vinnanam : Dengan adanya Sankhara (bentuk-bentuk karma) maka muncullah Vinnana (kesadaran).
3. Vinnana paccaya nama-rupam : Dengan adanya Vinnana (kesadaran) maka muncullah Nama-Rupa (bathin jasmani).
4. Nama-Rupa paccaya salayatanam : Dengan adanya Nama-Rupa (bathin-jasmani) maka muncullah Salayatana (enam landasan indera).
5. Salayatana paccaya phasso : Dengan adanya Salayatana (enam landasan indera) maka muncullah Phassa (kesan-kesan/kontak).
6. Phassa paccaya vedana : Dengan adanya Phassa (kesan-kesan kontak) maka muncullah Vedana (perasaan).
7. Vedana paccaya tanha : Dengan adanya Vedana (perasaan) maka muncullah Tanha (keinginan rendah).
8. Tanha paccaya upadanam : Dengan adanya Tanha (keinginan rendah), maka muncullah Upadana (kemelekatan)
9. Upadanna paccaya bhavo : Dengan adanya Upadana (kemelekatan) maka muncullah Bhava (penjadian).
10. Bhava paccaya jati : Dengan adanya Bhava (penjadian) maka muncullah Jati (kelahiran).
11. Jati paccaya jara-maranam : Dengan adanya Jati (kelahiran) maka muncullah Jara (ketuaan) dan Marana (kematian).

Arti secara terperinci dari Paticcasamuppada 12, yaitu :
1. Avijja atau Avidya (Sansekerta), berarti kegelapan bathin atau kebodohan bathin, karena tidak menembus Empat Kesunyataan Suci, sehingga orang terus-menerus berpegangan kepada kepercayaan tentang adanya "diri yang kekal" atau "aku yang kekal" dan terpisah. Dengan itu orang terns melakukan,dan mengikatkan dirinya pada perbuatan-perbuatannya yang baik atau yang jahat, sehingga ia tumimbal-lahir terus-menerus.
2. Sankhara, berarti bentuk-bentuk bathin yang mernpakan kehendak (cetana) yang membabar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang juga dapat disebut bentukbentuk karma.
3. Vinnana, berarti kesadaran, yang dimaksudkan adalah kesadaran yang merupakan akibat (vipaka) dari bentuk-bentuk karma (sankhara) yang baik atau yang jahat. Kesadaran ini disebut "patisandhivinnana" atau kesadaran yang bertumimbal lahir pada suatu bentuk kehidupan baru.
4. Nama-Rupa, berarti bathin danjasmani. Dengan bathin disini hanya dimaksudkan tiga Khandha (kelompok kehidupan), yaitu : vedana (perasaan), sanna (pencerapan) dan sankhara (bentuk bathin). Sedangkan vinnana (kesadaran) tidak termasuk, karena merupakan dasar syarat bagi pertumbuhan Nama-Rupa (bathinjasmani). Tetapi, jika tidak berhubungan dengan Paticcasamuppada, maka yang disebut Nama (Bathin) selalu terdiri dari empat khandha, yaitu vedana (perasaan), sanna (pencerapan), sankhara (bentuk bathin) dan vinnana (kesadaran).
5. Salayatana, berarti enam landasan indera (mata, telinga, hidung, lidah, jasmani dan pikiran). Enam Landasan Indera ini muncul berbarengan dan bersama dengan Nama-Rupa (Bathin-Jasmani). Enam Landasan Indera ini merupakan akibat (vipaka) karma dari kehidupan yang lampau.
6. Phassa, berarti kesan-kesan/kontak, yaitu :
a. kesan/kontak mata
b. kesan/kontak telingga
c. kesan/kontak hidung
d. kesan/kontak lidah
e. kesan/kontak jasmani
f. kesan/kontak pikiran
7. Vedana, berarti perasaan. Perasaan yang muncul dari kesan-kesan : mata, telinga, hidung, lidah, jasmani dan pikiran.
8. Tanha, berarti keinginan rendah atau kehausan yang tak habis-habisnya, mencari kepuasan di sana-sini. Terdapat tiga macam Tanha, yaitu :
A) Kama-tanha, ialah kehausan terhadap kesenangan-kesenangan indera yaitu kehausan pada :
a. bentuk yang indah
b. suara yang merdu
c. bau yang wangi semerbak
d. rasa yang enak dan nikmat
e. sentuhan yang empuk dan halus
f. bentuk-bentuk bathin yang menyenangkan
B) Bhava-tanha, ialah kehausan untuk menjelma berdasarkan kepercayaan tentang adanya "aku" yang kekal dan terpisah (attavada).
C) Vibhava-tanha, ialah kehausan untuk memusnahkan diri berdasarkan kepercayaan yang salah, yang menganggap bahwa setelah mati tamatlah atau habislah riwayat tiap manusia/makhluk (ucchedavada).
9. Upadana, ialah kemelekatan, yang terdiri dari 4 macam, yaitu :
a) Kamupadana, ialah kemelekatan pada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan dan kesan pikiran. Atau kemelekatan pada kesenangan indera.
b) Ditthupadana, ialah kemelekatan pada pandangan yang salah, yaitu : yang benar dikatakan salah, yang baik dikatakan buruk, yang dikatakan tidak berguna dan lain-Iainnya.
c) Silabbatupadana, ialah kemelekatan pada upacara agama, yang menganggap bahwa upacara agama dapat menghasilkan kesucian.
d) Attavadupadana, ialah kemelekatan pada kepercayaan tentang adanya "aku" atau "atta" yang kekal dan terpisah.
10. Bhava, ialah proses dumadi, yang terdiri dari dua macam, yaitu :
a) Kammabhava, ialah proses kamma yaitu munculnya bentuk -bentuk karma yang menyebabkan tumimbal lahir.
b) Upattibhava, ialah proses tumimbal-Iahir, yaitu buah-buah kamma yang lalu (vipaka-kamma).
11. Jati, ialah kelahiran yaitu munculnya kelima khandha (pancakhandha).
12. Jara-marana, ialah ketuaan dan kematian, yang merupakan rangkaian penderitaan, seperti kesakitan, susah hati, kesedihan, ratap tangis, putus asa, kecewa, kematian dan lain-Iainnya.
Patticcasamuppada ini terbagi 7 (tujuh) bagian yaitu :
a) Tayo-addha : 3 masa.
b) Dvadasafigani : 12 faktor
c) Visatakara : 20 cara
d) Tisandhi : 3 hubungan
e) Catusankhepa : 4 hubungan
f) Tini-Vattani : 3 lingkaran
g) Dve-mulani : 2 akar
Penjelasan :
1. Tayo-Addha adalah 3 masa, yaitu Avijja dan Sankhara faktor ini termasuk Atita-Addha (masa yang lampau). Jati dan Jara-marana 2 faktor ini termasuk Anagata addha (masa yang akan datang). Sedangkan selebihnya dibagian tengah ada 8 faktor (vinnana, nama-rupa, salayatana, phassa, vedana, tanha, upadana dan bhava) termasuk Paccuppanna-addha (masa yang sekarang)
2. Dvadasangani adalah 12 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana, Tanha, Upadana, Bhava, Jati dan Jara marana.
3. Visatakara adalah 20 cara, yaitu :
a. Keadaan yang menjadi sebab yang lampau (atitahetu) ada 5 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Tanha, Upadana dan Bhava.
b. Keadaan yang menjadi akibat yang sekarang (paccuppanna-phala) ada 5 faktor yaitu, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.
c. Keadaan yang menjadi sebab yang sekarang (paccuppanna-hetu) ada 5 faktor, yaitu Tanha, Upadana, Bhava, Avijja dan Sankhara.
d. Keadaan yang menjadi akibat yang akan datang (anagata-phala) ada 5 faktor, yaitu Vinnana, Nama Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.
4. Tisandhi adalah 3 hubungan, yaitu Sankhara dengan Vinnana menjadi 1 hubungan, Vedana dengan Tanha menjadi 1 hubungan Bhava dengan Jati menjadi 1 hubungan.
5. Catusankhepa adalah 4 bagian, yaitu :
a. Avijja dan Sankhara jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.
b. Vinna, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana jumlah 5 faktor ini menjadi 1 bagian.
c. Tanha, Upadana dan Bhava jumlah 3 faktor ini menjadi 1 bagian.
d. Jati dan Jara-marana jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.
6. Tini-Vattani adalah 3 lingkaran, yaitu :
a. Avijja, Tanha dan Upadana jumlah 3 faktor ini menjadi Kilesa-Vatta.
b. Sankhara dan Bhava (khusus Kamma-Bhava) jumlah 2 faktor ini menjadi Kamma-Vatta.
c. Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana dan Bhava (khusus Uppati-Bhava), Jati dan Jaramarana jumlah 8 faktor ini menjadi Vipaka- Vatta.
7. Dvemulani adalah 2 akar, yaitu Avijja dan Tanha.
  1. Avijja adalah kegelapan batin, dimana tidak dapat menyelami hukum kesunyataan
  2. Tanha adalah keinginan akan pemuasan terhadap hawa nafsu inderawi

Jumat, 21 Januari 2011

Cerita Dhammapada Atthakatha

Anak-Anak Mengunjungi Sang Buddha

Pada suatu ketika, ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vihara Jetavana, Savatthi, terdapat beberapa orang tua yang menjadi pengikut aliran yang sesat. Ketika mereka melihat anak-anak mereka bermain-main dengan anak-anak yang orang tuanya pengikut Sang Buddha, mereka marah dan tidak senang. Setelah anak-anak itu selesai bermain dan pulang ke rumah, mereka segera memarahi anak-anaknya :
"Mulai sekarang, kalau kamu bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu pengikut Pangeran Sakya, kamu tidak usah memberi hormat, dan tidak boleh memasuki pertapaan mereka".
Anak-anaknya disuruh bersumpah, harus mentaati apa yang mereka katakan.
Pada suatu hari, anak-anak pengikut aliran sesat itu sedang bermain-main di luar Vihara Jetavana, tempat Sang Buddha berdiam. Mereka bermain-main di depan pintu gerbang Vihara, setelah lelah bermain, mereka merasa amat haus dan ingin minum. mereka lalu menyuruh salah seorang temannya masuk ke dalam Vihara :
"Kamu masuk dulu ke dalam, mintalah air minum dan bawakan juga untuk kami".
Salah seorang anak laki-laki itu masuk ke Vihara, dan bertemu dengan Sang Buddha. Setelah memberi hormat, ia bercerita bahwa mereka sedang bermain-main di depan Vihara dan sekarang merasa haus, ingin minta air minum.
Sang Buddha berkata :
"Kamu boleh minum air di sini, kalau sudah minum, kembalilah ke teman-temanmu, ajaklah mereka minum di sini".
Kemudian semua anak-anak itu masuk ke dalam Vihara untuk minum. Selesai minum, Sang Buddha mengumpulkan mereka, dan mengajarkan Hukum Alam Semesta dengan kata-kata yang mudah mereka pahami. Akhirnya mereka mengerti dan menjadi murid Sang Buddha.
Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing, dan bercerita kepada orang tua mereka tentang Ajaran Sang Buddha. Beberapa orang tua yang menganut pandangan sesat itu bersedih hati dan menangis:
"Anak kami telah manganut pandangan sesat".
Tetapi ada beberapa orang tua yang pandai dan mengerti Ajaran Sang Buddha. Ketika menyadari kekeliruannya, mereka mendatangi orang tua yang keliru itu dan menjelaskan Ajaran Sang Buddha. Akhirnya mereka semua mengerti akan Dhamma yang Sang Buddha ajarkan, mereka berkata:
"Kami akan menyuruh anak-anak kami melayani Sang Guru Agung kita"
Bersama dengan keluarga masing-masing, mereka berbondong-bondong mengunjungi Sang Buddha.
Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran mereka sudah berubah, segera menerangkan kembali AjaranNya kepada mereka. Sang Buddha mengucapkan syair:
"Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara".
(Dhammapada, Niraya Vagga no. 13)
"Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela, maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia".
(Dhammapada, Niraya Vagga no. 14