Senin, 15 November 2010

Sigalovada Sutta (KOTBAH UNTUK PERUMAH TANGGA)

Demikianlah yang telah kudengar:

Pada suatu hari Sang Bhagava bersemayam di dekat Rajagaha di Veluvana di Kalandakanivapa. Pada waktu itu Sigala yang muda belia, putera seorang kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah ia mengangkat tangan yang dirangkap, menyembah berbagai arah bumi dan langit: Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas.

Pada pagi itu Sang Bhagava setelah berkemas pagi-pagi sekali dengan mengenakan jubah dan membawa mangkok memasuki Rajagaha untuk Pindapata. Ketika Beliau melihat Sigala yang muda belia sedang memuja, Beliau bertanya:

"Kepada keluarga yang muda belia, mengapa engkau bangun pagi-pagi dan meninggalkan Rajagaha dengan rambut dan pakaian basah, serta memuji berbagai arah bumi dan langit?"

"Bhante, ayah hamba ketika mendekati ajalnya, telah berpesan kepada hamba: 'Ananda yang baik, engkau harus menyembah berbagai arah bumi dan langit'. Demikian Bhante, karena menghormati kata-kata ayah hamba, mengindahkannya, menjunjungnya, menganggap suci, maka hamba bangun pagi-pagi sekali, meninggalkan Rajagaha dan memuja secara demikian."

"Tetapi dalam agama seorang Ariya, wahai kepala keluarga yang muda belia, enam arah itu seharusnya tidak disembah secara demikian."

"Bagaimanakah, Bhante, dalam agama seorang Ariya, enam arah itu harus disembah? Alangkah baiknya, Bhante, jika Sang Bhagava berkenan mengajarkan sebuah ajaran yang membentangkan cara bagaimana enam arah itu harus disembah dalam agama seorang Ariya. "

"Dengarkanlah, kepala keluarga yang muda belia, perhatikanlah kata-kata kami, dan kami akan berbicara"

"Baiklah, Bhante," jawab Sigala yang muda belia.

"Sedemikian jauh, siswa Yang Ariya telah menyingkirkan empat cacat dalam tingkah laku, duhai kepala keluarga yang muda belia. Sebegitu jauh ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena empat dorongan, sebegitu jauh ia tidak mengejar enam saluran yang menelan kekayaan. Demikianlah ia menjauhkan
diri dari empat belas cara jahat, dia itu pelindung enam arah, ia telah terlatih sedemikian rupa untuk menaklukkan kedua alam, ia telah terjamin untuk alam sini dan alam sana. Pada saat hancurnya badan jasmani setelah mati, ia akan menitis dalam kehidupan bahagia di Surga.

Apakah empat cacat dalam tingkah laku yang telah ia singkirkan? 1.Membunuh, 2.mencuri, 3.kecabulan, dan 4.kata-kata dusta. Inilah empat cacat dalam perilaku yang telah ia singkirkan."

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Penjagalan kehidupan, pencurian, berdusta, perzinaan; untuk semuannya itu tidak sepatahpun kata pujian diberikan oleh Sang Bijaksana.

Apakah empat dorongan yang membuat orang melakukan perbuatan jahat? Perbuatan jahat dilakukan atas dorongan: 1.Nafsu, 2.kebencian, 3.kebodohan, 4.ketakutan. Siswa Ariya tidak tersesat oleh dorongan-dorongan ini; ia tidak melakukan perbuatan jahat karena dorongan ini."

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda pula:

"Barang siapa melanggar Dhamma, karena nafsu atau kebencian, kebodohan, dan ketakutan, maka nama baiknya akan menjadi suram. Barang siapa yang belum pernah melanggar Dharmma karena nafsu atau kebenciaan, kebodohan, dan ketakutan, maka namabaik akan menjadi penuh dan sempurna, bagaikan rembulan dalam masa purnama siddhi.

Apakah enam saluran untuk menghamburkan kekayaan?

1. Ketagihan minum-minuman yang memabukkan;
2. Sering berkeluyuran di jalan pada waktu yang tidak tepat
3. Mengejar tempat-tempat pelesiran;
4. Gemar berjudi;
5. Mempunyai pergaulan yang buruk;
6. Kebiasaan menganggur.

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, terhadap ketagihan pada minum-minuman yang memabukkan:

1. Kehilangan harta;
2. Bertambahnya percekcokan;
3. Mudah terkena penyakit;
4. Kehilangan watak yang baik;
5. Menampakkan diri secara tidak pantas;
6. Melemahkan daya pikir atau kecerdasan.

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, karena berkeluyuran pada waktu yang tidak tepat:

1. Diri sendiri tanpa penjagaan dan perlindungan
2. Anak isteri tiada penjagaan dan perlindungan
3. Harta bendanya tiada penjagaan dan perlindungan
4. Lebih jauh lagi ia dituduh melakukan berbagai tindakan kejahatan (yang belum jelas).
5. Menjadi sasaran segala macam desas-desus;
6. Ia akan mengalami banyak kesulitan.

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari mencari tempat-tempat pelesiran. Ia akan terus menerus berpikir:

1. Di manakah ada tari-tarian?
2. Di manakah ada nyanyi-nyanyian?
3. Di manakah ada musik?
4. Di manakah ada pertunjukan?
5. Di manakah ada gendang dan tambu?
6. Di manakah ada bunyi-bunyian?

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, bagi orang yang
gemar berjudi:

1. Jika menang, ia memperoleh kebencian;
2. Jika kalah, ia tangisi harta bendanya yang telah hilang;
3. Hartanya yang nyata dihamburkan;
4. Di pengadilan kata-katanya tidak berharga;
5. Dipandang rendah oleh sabahat-sahabat dan pejabat-pejabatPemerintah.
6. Ia tidak disukai oleh orang-orang yang mencari menantu laki-laki, karena mereka akan berkata: 'Seorang   
    penjudi tidak akan sanggup memelihara isterinya'.

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari pergaulan buruk:

1. Setiap penjudi merupakan sahabat dan kawannya;
2. Setiap pemogok merupakan sahabat dan kawannya;
3. Setiap pemabuk merupakan sahabat dan kawannya;
4. Setiap penipu merupakan sahabat dan kawannya;
5. Setiap tukang memperdayai merupakan sahabat dan kawannya;
6. Setiap tukang berkelahi merupakan sahabat dan kawannya.

Terdapat enam bahaya, duhai kepala keluarga yang muda belia, dari kebiasaan menganggur:

1. Ia berkata: 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja;
2. Ia berkata: 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja;
3. Ia berkata: 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja;
4. Ia berkata: 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja;
5. Ia berkata: 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja;
6. Ia berkata: 'Terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja;

Sedangkan apa yang harus dilakukan tetap tidak dikerjakan, harta baru tidak ia dapatkan, dan hartanya yang ada menjadi habis."

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Buddha bersabda pula: "Beberapa sahabat memuji kawan minum. Beberapa orang mengatakan sahabat baik, sahabat baik. Akan tetapi, yang membuktikan dirinya sebagai kawanmu pada waktu bahaya, dialah yang benar-benar boleh dikatakan seorang sahabat."

"Tidur sewaktu matahari telah terbit dan perzinaan.Terlibat dalam perc ekcokan-percekcokan dan berbuat jahat. Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati telengas. Inilah enam sebab yang menjadikan orang tergelincir.

Jika ia bersahabat dnegan berkawan dengan orang-orang jahat Mengatur hidupnya dengan cara jahat.Baik di alam ini maupun d alam sana. Orang itu akan terperosok dengan menyedihkan Berjudi dan wanita, minuman keras, tarian dan nyanyian. Tidur di waktu siang, berkeluyuran di waktu malam. Bersahabat dengan orang jahat, berhati telengas. Inilah enam sebab orang terjerumus (ke dalam penderitaan)

Berjudi dengan dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada wanita-wanita yang dicintai bagaikan diri sendiri oleh laki-laki lain.

Mengikuti mereka yang berpikiran gelap, bukan yang berpikiran sadar. Ia menjadi suram bagai bulan terbit dalam purnama tilam.

Peminum-peminum keras, pemiskin, melarat. Haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman.
Bagaikan batu ia tenggelam ke dalam hutang-hutang.Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Barang siapa mempunyai kebiasaan untuk tidur di waktu siang, memandang malam sebagai waktu untuk bangun. Orang yang selalu tidak bertanggung-jawab dan ada di isi dengan anggur. Tidak cakap untuk menjadi kepala keluarga. Terlalu dingin, terlalu panas, terlalu siang, demikian keluhan (yang diucapkan).

Demikian orang yang meloloskan dari pekerjaan yang menunggu. Kesempatan-kesempatan lewat untuk selama-lamannya. Akan tetapi, orang yang menganggap dingin, atau panas sebagai hal yang kecil. Ia tidak akan kehilangan kebahagiaannya dengan cara apapun juga.

Terdapat empat macam manusia, duhai kepala keluarga yang muda belia, yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1. Orang yang sangat tamak;
2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu;
3. Penjilat;
4. Pemboros.

Dari mereka ini, orang yang pertama disebutkan diatas, ada empat dasar untuk menganggap mereka sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu:

1. Sangat tamak;
2. Memberi sedikit meminta banyak;
3. Melakukan kewajibannya karena takut;
4. Hanya ingat pada kepentingannya sendiri.

Terhadap orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu atas empat alasan untuk dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1. Ia menyebutkan persahabatan di masa lampau;
2. Ia menyebutkan persahabatan untuk masa yang akan datang;
3. Ia berusaha mendapatkan kesayangan seseorang dengan kata-kata
kosong;
4. Jika ada kesempatan untuk memberikan jasa kepada seseorang, ia
menyatakan tidak sanggup.

Terhadap orang penjilat ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:

1. Ia menyetujui hal-hal yang salah dan
2. Menjauhkan diri dari hal-hal yang baik;
3. Ia memuji engkau dihadapan seseorang dan
4. Bicara buruk tentang diri seseorang dihadapan orang lain.

Terhadap orang pemboros ada empat alasan untuk memandang mereka sebagai
musuh yang berpura-pura sebagai sahabat, yaitu:
  1. Ia menjadi kawanmu, jika engkau menyerah pada minuman keras;
  2. Ia menjadi kawanmu, jika engkau berkeluyuran di jalanan pada waktu yang tidak tepat;
  3. Ia menjadi kawanmu, jika engkau mencari pertunjukan pentas dan tempat-tempat pelesiran;
  4. Ia menjadi kawanmu, jika engkau gemar berjudi."
Setelah bersabda demikian, kemudian bersabda pula:

"Sabahat yang selalu mencari sesuatu untuk diambil, sahabat-sahabat yang ucapannya berbeda dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat dan membuat kamu senang dengan yang demikian. Kawan yang riang gembira dan dijalan sesat. Empat ini adalah musuh-musuh.

Demikianlah, setelah mengenal, biarlah orang bijaksana menghindar jauh dari mereka bagaikan jalan yang berbahaya dan menakutkan.

Ada empat jenis, duhai kepala keluarga yang muda belia, sahabat-sahabat yang harus dipandang sebagai sahabat dengan berhati tulus:

1. Penolong;
2. Sahabat di waktu senang dan susah;
3. Sahabat yang memberi nasihat yang baik;
4. Sahabat yang simpati.

Atas empat dasar sahabat yang menolong harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu:

1. Ia menjaga dirimu sewaktu kamu tidak siap;
2. Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah;
3. Ia menjadi pelindungmu sewaktu engkau sedang ketakutan;
4. Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat
(dari yang kamu perlukan).

Atas empat dasar sahabat di waktu senang dan susah yang harus dipandang sebagai sahabat yagn berhati tulus, yaitu:

1. ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu;
2. ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain
3. didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu;
4. untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.

Atas empat dasar sahabat yang menasihatkan apa yang harus engkau lakukan sebagai yang berhati tulus, yaitu:

1. ia mencegah engkau berbuat salah;
2. ia menganjurkan engkau berbuat yang benar
3. ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar
4. ia tunjukkan padamu jalan ke surga.

Atas empat dasar sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus:

1. Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu;
2. Ia merasa senang akan kejayaanmu;
3. Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu;
4. Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu."

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Bhagava bersabda pula:

"Sahabat yang menjadi kawan penolong, sahabat pada waktu senang dan susah, sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia yang menggetar dengan simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini adalah orang bijaksana yang harus dikenal sebagai sahabat dan kepada empat sahabat ini ia harus menyediakan dirinya bagikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri.

Orang bijaksana dan cerdas bercahaya bagaikan api yang berkobar-kobar. Ia yang mengumpulkan kekayaannya dengan cara tidak merugikan (makhluk lain), bagaikan kumbang yang menjelajah mengumpulkan madu, kekayaannya akan bertumpuk-tumpuk bagaikan sarang semut yang semakin tinggi.

Dengan kekayaan yang diperoleh dengan cara demikian, seorang upasaka pantas untuk suatu kehidupan berumah tangga. Ia membagi kekayaannya atas empat bagian. Dengan demikian ia akan mendapat persahabatan.

Satu bagian untuk keperluannya sendiri, Dua bagian untuk menjalankan usahanya.Bagian keempat disimpan sebagai cadangan.Dan cara bagaimanakah, duhai kepala keluarga yag muda belia, siswa yang Ariya melindungi enam arah itu?

Keenam arah itu harus dipandang sebagai berikut:

1. Ibu dan ayah sebagai arah timur;
2. Para guru sebagai arah selatan;
3. Istri dan anak sebagai arah barat;
4. Sahabat dan kawan sebagai arah utara;
5. Pelayan dan buruh sebagai arah bawah;
6. Petapa dan brahmana sebagai arah atas.

Dalam lima cara seorang anak memperlakuklan orang tuannya sebagai arah timur:

1. Dahulu aku ditunjang oleh mereka, sekarang aku kaan menjadi penunjang mereka.
2. Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka;
3. Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku;
4. Aku akan mengurus warisanku;
5. Aku akan mengatur pemberian sesaji kepada sanak keluargaku yang telah meninggal.

Dalam lima cara orang tua yang diperlalukan demikian, sebagai arah timur menunjukkan kecintaan mereka kepada anak-anaknya:

1. Mereka mencegah ia berbuat kejahatan;
2. Mereka mendorong supaya ia berbuat baik;
3. Mereka melatih ia dalam suatu pekerjaan;
4. Mereka melaksanakan perkawinan yang pantas bagi anaknya;
5. Dan menyerahkan warisan pada waktunya.

Demikianlah arah timur terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru mereka sebagai arah selatan:

1. Dengan bangun dari tempat duduk mereka (memberi hormat);
2. Dengan melayani mereka
3. Dengan tekad baik untuk belajar;
4. Dengan memberikan persembahan kepada mereka;
5. Dan dengan memberikan perhatian sewaktu diberi pelajaran.

Dan dalam lima cara, guru akan diperlakukan demikian sebagai arah selatan akan berbuat kepada murid-muridnya:

1. Mereka melatih siswa itu sedemikian rupa, sehingga ia terlatih
dengan baik.
2. Mereka membuat ia menguasai apa yang telah diajarkan;
3. Mereka mengajarkan secara mendalam ilmu pengetahuan dan kesenian;
4. Mereka bicara baik tentang muridnya di antara sahabat dan
kawan-kawannya;
5. Mereka melengkapi muridnya demi keamanan dalam setiap arah.

Demikianlah arah selatan terlindungi untuknyua, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara seorang isteri harus diperlakukan sebagai arah barat oleh suaminya:

1. Dengan perhatian;
2. Dengan keramah-tamahan;
3. Dengan kesetiaan;
4. Dengan menyerahkan kekuasaan kepadanya;
5. Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

Dalam lima cara ini sang isteri membalas cinta suaminya sebagai arah barat:

1. Kewajiban-kewajibannya dilakukan dengan sebaik-baiknya
2. Berlaku ramah-tamah kepada sanak keluarga dari kedua pihak;
3. Dengan kesetiaan
4. Menjaga barang-barang yang ia bawa
5. Pandai dan rajin mengurus segala pekerjaan rumah tangga.

Demikianlah arah barat ini terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara anggota keluarga memperlakukan sahabat dan kawannya sebagai arah utara:

1. Dengan murah hati;
2. Ramah tamah;
3. Berbuat untuk kebahagiaan mereka
4. Memperlakukan mereka bagaikan memperlakukan diri sendiri.
5. Menepati janji

Diperlakukan dalam lima cara ini, sebagai arah utara, sahabat dan kawan-kawan akan mencintainya:

1. Melindunginya, jika ia tidak siaga.
2. Dan dalam keadaan yang demikian menjaga harta bendanya;
3. Dalam bahaya ia dapat berlindung pada mereka;
4. Mereka tidak akan meninggalkan dia dalam kesulitan;
5. Mereka menghormati keluargannya.

Demikianlah arah utara terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Dalam lima cara majikan akan memperlakukan pelayan dan buruhnya sebagai arah bawah:

1. Memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka;
2. Memberikan makanan dan upah kepada mereka;
3. Merawat mereka sewaktu sakit;
4. Membagi mereka makanan yang istimewa;
5. Memberikan mereka liburan pada waktu tertentu.

Diperlakukan dalam lima cara itu, pelayan dan pekerja akan menjunjung majikan mereka dalam lima cara:
  1. Mereka bangun lebih pagi daripada majikan mereka;
  2. Mereka beristirahat setelah majikan mereka beristirahat;
  3. Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka;
  4. Mereka melakukan kewajiban mereka dengan baik;
  5. Dimana saja mereka akan memuji majikan mereka. 
 Demikianlah arah barat terlindung untuknya, dibuat aman dan terjamin.

Ada lima cara seorang anggota keluarga harus memperlakukan para samana dan brahmana sebagai arah atas:

1. Dengan perbuatan yang ramah tamah;
2. Dengan ucapan yang ramah tamah;
3. Dengan pikiran yang bersih;
4. Membuka pintu bagi mereka;
5. Memberikan mereka keperluan hidup.

Diperlakukan demikian sebagai arah atas, para samana (petapa) dan brahmana memperlakukan para anggota keluarga itu dalam enam cara:
  1. Mereka mencegah anggota keluarga melakukan kejahatan;
  2. Mereka menganjurkan ia berbuat kebaikan;
  3. Pikiran mereka selalu terjaga terhadapnya;
  4. Mereka ajarkan apa yang belum pernah ia dengar;
  5. Mereka memperjelas apa yang telah ia dengar;
  6. Mereka menunjukkan jalan kehidupan ke surga.
Dalam enam cara ini para petapa dan brahmana memperlihatkan cinta-kasih mereka kepada gharavasa.

Demikianlah arah atas melindungi mereka, dibuat aman dan terjamin."

Demikianlah sabda Sang Bhagava. Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Beliau bersabda lagi:

"Ibu dan ayah adalah arah timur. Dan guru-guru adalah arah selatan. Isteri dan anak-anak arah barat. Sahabat dan kerabat arah utara. Pelayan dan buruh arah bawah Dan arah atas adalah para petapa dan brahmana. Orang yang menjalani kehidupan berkeluarga harus menghormati keenam arah ini.

Orang yang bajik dan bijaksana, Lemah lembut dan sungguh-sungguh Rendah hati dan penurut, Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Ia yang bersemangat dan tidak malas Tidak tergoncang oleh kemalangan Perilaku yang tidak tercela dan cerdas, Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Orang yang ramah dan bersahabat, Terbuka dan tidak mementingkan diri sendiri, Seorang penurut, penasihat, pemimpin, Ia yang demikian akan memperoleh kehormatan.

Dermawan, ucapan yang ramah, Hidup penuh pengabdian, Berada di atas semua golongan. Selama keadaan menghendakinya

Empat jalan kemenangan ini membuat dunia berputar seperti pisau pasak pada kereta yang berjalan.

Jika hal ini ada di dunia, tiada seorang ibu maupun seorang ayan yagn akan mendapat penghargaan dan penghormatan dari anak mereka sendiri.

Oleh karena empat jalan-kemenangan ini dipuji oleh para bijaksana dalam berbagai cara; kemuliaan yang akan mereka capai dan pujian yang sudah sepantasnya mereka peroleh"

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, Sigala, kepala keluarga yang muda belia, berkata demikian:

"Indah, Bhagava, Indah!

Sang Bhagava, bagaikan seorang yang telah menegakkan apa yang telah roboh, atau membuka apa yang tersembunyi atau menunjukkan jalan kepada yang telah tersesat, atau membawa mampu ke tempat yang gelap sehingga mereka yang mempunyai mata akan dapat melihat. Demikian juga, dhamma yang telah dibabarkan dalam berbagai cara oleh Sang Bhagava.

Saya berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa, sebagai seorang yang telah berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat."


Jumat, 12 November 2010

CERITA JATAKA TEMlYA YANG PEKAK DAN BISU

Mengapa Temiya Tidak Bercakap 

Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang memerintah kerajaan Kasi di India. Baginda sangat kaya serta mempunyai beberapa orang isteri, tetapi tidak mempunyai anak. Pada suatu hari, raja memerintahkan permaisuri-permaisuri baginda berdoa supaya dikurniakan anak. Tetapi walaupun mereka sudah menyembah bulan dan dewa-dewa yang lain, mereka masih tidak mendapat anak. Permaisuri pertama baginda yang bernama Canda Devi merupakan seorang yang sangat mulia. Pada hari bulan purnama, Canda Devi mematuhi 'Lapan Sila' dan berkata kepada dirinya, "Beta tidak pernah melanggar “ Sila-Sila ”, semoga dengan kebajikan ini, beta dikurniakan seorang putera."
Permaisuri Canda Devi adalah seorang perempuan yang alim. Apabila baginda mengeluarkan kata-kata tadi, takhta Raja Sakka di kayangan iaitu raja .kepada dewa-dewi menjadi panas. Biasanya apabila seseorang melakukan seuatu perbuatan yang sangat baik, takhta Raja Sakka akan menjadi panas. Raja Sakka memenuhi permintaan Canda Devi dengan menghantar turun salah satu daripada malaikat-malaikat untuk menjadi puteranya. Anak ini tidaklah lain melainkan Bodhisatta kita. Raja Sakka juga menghantar lima ratus lagi malaikat melalui isteri-isteri orang bangsawan supaya mereka menjadi pelayan kepada Bodhisatta nanti.
Apabila Canda Devi melahirkan seorang putera, raja sungguh gembira. Pada ketika yang sama, lima ratus isteri orang-orang bangsawan tadi melahirkan anak yang akan membesar bersama-sama dan menjadi pembantu Bodhisatta. Bodhisatta diberi susu manis oleh empat puluh empat orang pengasuh yang cantik-cantik. Selepas menyerahkan pengasuh-pengasuh Bodhisatta kepada permaisuri, raja memberitahu permaisuri, baginda akan menunaikan apa saja permintaan permaisuri. Walau bagaimanapun, permaisuri belum lagi hendak meminta sesuatu, tetapi hanya menyimpan hasratnya di dalam hati.
Pada hari penamaan puteranya, raja mengundang beberapa orang sami (pendeta Brahmin) ke istana. Para Brahmin itu mengatakan putera raja mempunyai semua tanda yang baik. Raja menamakan putera itu Putera Temiya; yang bermaksud "putera yang basah" kerana pada hari kelahirannya hujan telah turun di seluruh Kasi.
Semasa berumur baru satu bulan, Temiya telah dipakai dengan pakaian yang cantik-cantik dan dibawa ke hadapan orang ramai. Dia dibawa naik ke singgahsana dewan orang ramai dan duduk di lutut ayahandanya. Ramai pembesar istana yang meminati kecantikannya. Ketika itu empat orang penyamun dibawa masuk untuk diadili oleh raja. Temiya melihat ayahandanya menghukum salah seorang daripada mereka dengan menyebat seribu kali dengan tali yang berduri, yang seorang lagi dirantai, manakala yang ketiga dibunuh dengan lembing dan yang keempat pula disula dengan kayu yang panjang.
Bodhisatta sungguh gerun dengan perbuatan ayahandanya, lalu berfikir, "Ya, selaku raja, ayahanda terpaksa melakukan kekejaman semua ini yang akan membawanya ke neraka!" Pada keesokan harinya, apabila Temiya bangun, dia memandang ke atas payung diraja yang berwarna putih, dan mula berfikir bagaimana keadaannya apabila menjadi seorang raja nanti. Fikiran ini sungguh menakutkannya. Dia teringat pada suatu masa dalam kelahirannya yang lampau, dia telah menjadi seorang raja selama dua puluh tahun. Akibat daripada kekejamannya, dia terpaksa menderita selama lapan puluh ribu tahun di dalam neraka.
Apabila Temiya memikirkan bahawa dia akan menjadi raja sekali lagi, dan akan menderita lagi di dalam .neraka, dia menjadi takut. Badannya yang berwarna keemasan itu menggeletar dan menjadi pucat. Dia berbaring sambil memikirkan bagaimana dia boleh terselamat daripada menjadi raja. Kemudian datang dewi penghuni payung putih di atasnya; yang mana pernah menjadi ibunya dalam kelahirannya yang lampau, sambil berkata kepadanya :
Temiya Menjadi Pertapa
"Janganlah takut, anakku Temiya; kalau anakanda betul-betul ingin membebaskan diri, berolok-oloklah menjadi lumpuh, pekak dan bisu. Dengan tiga cara ini, berpura-puralah menjadi bodoh." Putera T'emiya mendengarnya dan mengikuti nasihat dewi itu. Dia berpura-pura menjadi lumpuh, pekak dan bisu.
Putera Temiya mengikut nasihat dewi itu dan berpura-pura menjadi lumpuh, pekak dan bisu. Dia berbeza daripada lima ratus orang anak bangsawan yang lain itu. Mereka menangis meminta susu, sementara Temiya pula membisu. Dalam tahun pertama, bonda dan pengasuh-pengasuh Temiya sangat risau kerana dia tidak menangis; tidak tidur dan tidak bergerak atau pun mendengar. Mereka cuba membuatkan dia berasa. lapar. Mereka berhenti menyusunya supaya dia bersuara. Kadang-kala, sehari suntuk mereka tidak menyusuinya; namun Temiya masih berkelakuan begitu.
Bila umurnya dua tahun, mereka cuba membuatnya supaya bergerak dan bercakap. Mereka meletak beraneka jenis kuih dan manis-manisan di hadapannya. Kanak-kanak lain berebut-rebut mendapatkan makanan itu, tetapi Temiya berkata pada dirinya, "0 Temiya, makanlah kuih-kuih dan manisan itu kalau hendak ke neraka I "
Dalam tahun ketiga, berbagai-bagai jenis buah-buahan dibawa kepadanya. Dalam tahun keempat, bermacam-macam alat permainan diletakkan di hadapannya. Mereka cuba memberinya berjenis-jenis makanan. Kanak-kanak lain menerkam dengan tamaknya apabila melihat semua itu; tetapi Temiya masih juga tidak bergerak.
Masuk tahun kelima, mereka cuba menakut-nakutkannya supaya dia bercakap. Dia diletakkan di tengah-tengah sebuah rumah besar yang mempunyai banyak pintu dan ditutupi dengan daun-daun palma. Lima ratus kanak-kanak diletakkan di sekelilingnya. Lepas itu seorang penyuruh diarahkan membakar rumah itu. Kanak-kanak lain lari bertempiaran, tetapi Temiya duduk berdiam diri walaupun api sudah menghampirinya, sehinggalah dia diselamatkan oleh pengasuhnya.
Ketika berumur enam tahun, gajah dilepaskan berhampiran dengannya. Ketika berumur tujuh tahun, ular pula dililit pada tubuhnya. Namun dia tetap membisu. Pada tahun-tahun berikutnya, mereka membiarkan dia menonton beberapa pertunjukan. Kanak-kanak lain bergembira dan ketawa berdekah-dekah, hanya Temiya seorang yang tidak bersuara. Kemudian mereka menyuruh orang menakut-nakutkannya dengan pedang, narnun Temiya tetap membisu.
Apabila umurnya mencapai sepuluh tahun, mereka cuba menguji sama ada Temiya betul-betul pekak. Lubang-lubang dibuat pada keempat-empat bahagian langsir di sekeliling katilnya dan trompet ditiup dengan sekuat-kuatnya melalui lubang itu. Kemudian mereka cuba menakutkannya dengan dram dan cahaya lampu yang cerah di waktu malam. Namun begitu, semuanya gagal untuk membuatkan Temiya bergerak atau bercakap.
Mereka cuba lagi, kali ini dengan menyapu badannya dengan sirap dan membiarkan serangga mengerumuninya. Dia masih juga tidak bergerak-gerak. Mereka membiarkan badannya kotor dan tidak bermandi, tetapi Temiya tidak juga peduli. Periuk-periuk yang berisi bara api diletak di bawah katilnya, menyebabkan kulitnya melepuh; tetapi dia. berkata kepada dirinya, "Api neraka seribu kali lebih dahsyat daripada api ini." Kedua-dua ayahanda dan bondanya merayu agar dia bercakap, bergerak dan mendengar; tetapi dia tidak berani melakukannya.
Umurnya telah meningkat enam belas tahun. Dia dibawa ke bilik yang dibubuh bau-bauan di mana terdapat gadis-gadis yang cantik-cantik. Tetapi dia menahan nafas supaya tidak tergoda oleh bau-bauan itu.
Akhirnya raja memerintah supaya sami-sami Brahmin mengadap baginda. Baginda ingin tahu mengapa mereka tidak memberitahu tentang kelakuan Temiya yang pelik itu. Sami Brahmin tidak mahu menunjukkan kebodohan mereka, lalu menjawab bahawa mereka tidak mahu membuat raja susah hati. Tetapi sekarang, kata mereka lagi, sekiranya Temiya menjadi raja, negeri itu akan musnah. Mereka menasihati raja begini, "Tuanku hendaklah menghantar keluar istana putera tuanku melalui pintu pagar sebelah barat dengan kereta kuda yang ditarik oleh. seekor kuda yang malang. Setibanya di tanah perkuburan, di sana dia mesti ditanam."
Permaisuri Canda Devi menyuruh raja menyerahkan kerajaan kepada Temiya selama tujuh hari. Hari ketujuh telah tiba, tetapi Temiya masih tidak bercakap sepatah pun. Apabila Sunanda, pemandu kereta kuda itu membawanya melalui Pintu Pagar Timur, bukannya melalui Pintu Pagar Barat, Temiya mengetahui bawa akhirnya dia sudah terlepas daripada nazarnya. Tatkala Sunanda sedang menggali kubur, Temiya menguji kekuatan dirinya dengan mengangkat kereta kuda itu. Lepas itu dia bercakap dengan Sunanda. Sunanda terkejut dan berlutut di kakinya sambil merayu supaya dia pulang ke istana; tetapi Temiya berkata, dia hendak menjadi seorang pertapa. Apabila raja dan permaisuri mendapat tahu peristiwa tersebut, baginda berdua pergi ke hutan untuk membawa Temiya pulang. Temiya menjelaskan kepada mereka kenapa selama enam belas tahun dia berkelakuan sedemikian. Selepas itu kedua-dua ayahanda bondanya ikut sama menjadi pertapa.
Di mana-mana pun juga ,
seseorang itu tidak dapat melarikan diri
daripada pembalasan akibat perbuatan jahatnya,
tidak juga di langit, tidak juga di tengah lautan atau di gua gunung.
(Dhammapada, ayat 127)